MEMILIH DENGAN CINTA

(Padang Ekspress, Rabu, 08 April 2009)

Oleh:

Feri Amsari

Peneliti pada Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO)

Fakultas Hukum Universitas Andalas

love

9 April nanti pemilih Indonesia akan “mencontreng” para wakil rakyatnya yang akan duduk di parlemen pusat dan daerah. Wakil rakyat itulah yang nantinya akan menentukan baik-buruk, hitam-putihnya garis nasib para rakyat, bangsa dan negara. Menentukan 5 tahun kedepan roda pemerintahan. Kemana rakyat sebagai penumpang dari ”kapal negara” akan dilabuhkan. Kepada kemiskinan ataukah menuju kesejahteraan. Kepada manipulasi atau jati diri bangsa sesungguhnya. Atau kapal bernegara itu kandas tanpa tempat lain untuk menepi. Sejauhmanakah harapan rakyat dapat diwujudkan ke arah sebuah negara kesejahteraan bagi semua (walfare state for all), bukan kemakmuran bagi kalangan elit semata?

Janji-janji sudah dilontarkan. Ambisi untuk menyejahterakan rakyat menjadi ”obralan” wajib di setiap kampanye. Tidak ada para kandidat yang tidak mengaku sebagai pejuang kerakyatan. Lalu, bagaimanakah kita sebagai rakyat harus menyikapi kondisi tersebut ?

Menyigi Kandidat

Salah satu yang paling penting dilakukan rakyat adalah mencermati setiap kandidat dengan sungguh-sungguh. Mengetahui latar-belakang sang calon, sejarah hidup dan jejak perjalanan karir mereka. Pemilih (baca : rakyat) tidak boleh melakukan gambling (berjudi) dengan memilih orang-orang yang tidak jelas. Apalagi para calon yang nyata-nyata bukanlah pejuang rakyat. Para calon ”ajaib” yang datang dari wilayah ”antah berantah” bukanlah sebuah pilihan bijak. Misalnya terdapat calon yang tidak memiliki KTP di daerah mereka mencalonkan. Bagaiman mungkin calon tersebut mampu memperjuangkan kepentingan yang diwakilinya, jika sang calon sendiri tidak ”dekat” dalam kehidupan keseharian rakyat. Bukankah masing-masing daerah memiliki kekhususan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang hari-harinya hidup ”merasakan” keistimewaan tersebut. Oleh sebab itu setiap kandidat harus mendapat perhatian sungguh-sungguh.

Terdapat beberapa tipe kandidat yang perlu dicermati rakyat. Pertama kandidat haram, yaitu para calon yang tidak boleh dipilih oleh voters (pemilih). Kandidat jenis ini adalah figur-figur yang terlibat kasus korupsi, pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM), pelaku illegal logging, kandidat yang terlibat ijazah palsu, pelaku tindak kekerasan dan pelecahan terhadap wanita dan anak, pernah duduk di parlemen namun terbukti tanpa prestasi. Jika rakyat memilih kandidat jenis ini dengan alasan ideologi, ikatan keluarga dan kedaerahan, maka tunggulah kehancuran bangsa ini dalam waktu dekat.

Kandidat kedua adalah kandidat mubah. Calon kategori ini adalah sosok yang tidak jelas. Dalam artian, mereka adalah orang-orang yang tiba-tiba saja muncul. Tidak diketahui prestasinya, tidak diketahui ”asal-usul” sejarah hidupnya, bahkan tidak terdapat track record (rekam jejak) perbuatan baik apa yang pernah dilakukannya untuk rakyat. Kandidat ini bukan tidak boleh dipilih, namun para pemilih benar-benar berjudi jika memilih mereka. Bagaimana jika ternyata si calon adalah koruptor atau pelaku pelanggar HAM berat. Tentu saja yang dirugikan setelah terpilihnya adalah rakyat itu sendiri. Maka pemilih yang baik adalah yang mencoba mencermati bahkan menggali lebih jauh para calon baru yang tidak dikenal dalam kancah sosial politik kemasyarakatan. Jika ragu maka janganlah dipilih.

Tentu saja kandidat terakhir adalah calon yang halal untuk dipilih. Kriteria calon ini sederhana saja, para pemilih dengan mudah menemukan prestasi-prestasi perjuangan mereka demi rakyat. Calon ini bukanlah seseorang yang tiba-tiba ”datang” ketika pemilihan umum, tetapi adalah kandidat yang sudah dari dulu berjuang memenuhi kewajibannya sebagai wakil rakyat. Kandidat yang anti ”memakan” uang rakyat. Hidup sederhana, dekat dengan rakyat, serta mampu menyediakan waktunya untuk mendengar dan memperjuangkan keluh-kesah rakyat jelata. Calon dengan kriteria seperti ini memang langka, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Rakyat pemilihlah sesungguhnya yang paham siapakah para calon yang benar-benar hidup di hati rakyat atau calon yang hanya sekedar mengelu-elukan diri sebagai pejuang rakyat.

Memilih dengan Cinta

Dalam pemilihan kali ini rakyat harus berani memilih dengan cinta. Bukan dengan uang ataupun semata-mata memperturuti sentimen kedaerahan, kekeluargaan atau rasial lainnya. Hal itu seringkali ditemui ketika para calon menggunakan isu-isu kedaerahan untuk memancing sisi emosional pemilih. Rakyat bahkan juga kemudian diimingi-imingi dengan uang dan kegiatan-kegiatan instant. Para calon tiba-tiba sibuk membangun jalan-jalan kampung tanpa mempedulikan ada proposal atau tidak. Tanpa ada ”angin maupun hujan,” tiba-tiba para calon menjelang pemilu membagi-bagikan sembako, walaupun bukan di daerah bencana. Melihat kondisi di atas, saatnya para pemilih bersikap lebih kritis mempertanyakan polah para kandidat yang sangat instant tersebut.

Pemilih memiliki tanggung jawab penting untuk merubah haluan bernegara kita yang carut-marut selama ini. Rakyat pemilih tidak diperkenankan hanya menunjuk semata-mata atas kekhilafan kepada para wakilnya. Jika ternyata tidak terdapat pembenahan berarti dalam bernegara. Pemilih adalah penentu utama sesungguhnya dalam hal pembenahan pemerintahan, terutama dalam lembaga perwakilan yang saat ini dikecam karena sangat korup.

Maka saatnya rakyat harus bersama-sama menyerukan semangat memilih dengan cinta. Bukan chauvanisme kepartaian, ideologi, ras, mapun kepentingan politik sesaat. Rakyat adalah satu. Tidak ada perbedaan secara prinsip antara rakyat pendukung partai ”A” maupun partai ”B” kecuali warna bajunya. Rakyat tetaplah rakyat, boleh beda partai, tapi sesungguhnya mimpi-mimpi rakyat adalah sama. Yaitu mimpi kepada sebuah kebaikan. Indonesia yang lebih baik di masa yang akan datang. Oleh karena itu harapan perubahan bangsa dan negara ini ditentukan oleh suara anda, maka memilihlah dengan cinta. Jangan ada dusta di antara rakyat dan kandidat. Kandidat yang tidak mencalonkan dirinya dengan perasaan yang sungguh-sungguh cita kepada rakyat, maka sebaiknya mundur segera.