Lawan Kawan…

18 Januari 2010

Sudah menjadi kredo alam. Bahwa kedzaliman tak bertuhan. Ia berdiri pongah tak memandang ke bawah. Absolut bak kekuasaan Louis XIV, The Sun King, yang berucap hukum adalah ucapan saya. Tak pernah secercah pun ia memikirkan rakyat bawah. Menindas adalah tanpa belas kasih. Sehingga tak pantas berharap rasa kasih sayang ke hadapannya.

Maka lahirlah pemberontakan. Revolusi Prancis hingga revolusi di Inggris, darah di lapangan Tiananmen, mayat-mayat bisu dalam sejarah reformasi pilu Indonesia, adalah bukti pemberontakan akan kelaliman butuh pengorbanan dalam.

Beberapa kelompok oportunis, selalu dan selalu, menyatakan bahwa pergerakan butuh perencanaan sungguh-sungguh. Betul, tak ada bantahan atas pemahaman itu. Namun kalau ketakutan kemudian dilapisi alasan-alasan yang menunda pergerakan. Itu disebut kepengecutan berpadu dengan ketamakan. Angkara murka bersatu dengan kekuasaan. Bak penguasa dan pengusaha di Indonesia yang telah bersetubuh berpuluh-puluh tahun. Perzinahan dosa tak berkesudahan.

Tan Malaka memang mengajarkan bahwa pergerkan tanpa rencana hanya bisa menjadi “puch”. Pergolakan segelitir yang mudah ditumpas oleh kekuasaan otoriter. Maka wujudlah Tiananmen-tiananmen baru. Namun jika sudah ada otak, kelompok, kebersamaan, tanpa oportunistis, maka menunggu dan terlalu lama bercakap-cakap adalah kebodohan yang disemai indah.

Bergerak, bergerak, serentak, serentak, majulah, majulah menang. Bukankah itu adalah syair lagu kebanggan bangsa ini yang dibuat bukan tanpa makna. Berpikir dan bergerak adalah saudara siam. Tak boleh dipisah. Jangan terlalu lama berpikir dan jangan pula miskin gerak.

Kelaliman jangan dibiarkan hidup lama. Karena itulah bangsa ini tak jaya-jaya. Menunggu dengan banyak tetek bengek keramah tamahan. Kalau seandainya pemuda-pemuda seperti Sukarni di masa konflik antara kalangan tua dan muda dalam menentukan kemerdekaan tidak ada. Maka nyaris tuan-tuan dan nyonya-nyonya masih hidup di jaman penjajahan. Jaman dimana pejuang disebut ekstrimis-ekstrimis, perampok, bahkan orang tak tahu diri.

Ah sekali-sekali tak bisakah kita melupakan diri sendiri. Nasib ini sudah ditentukan Illahi. Ingat betul bagaimana dulu perjuangan habis-habisan memang membawa luka. Tapi jika kalah kita dapat mengingatnya sebagai sebuah pengorbanan. Jika menang kita menyambutnya dengan senyuman. bahkan ketika gundah bertabur resah, momen kemenangan menjadi penghibur sempurna…Ah kemanakah kalian kawan-kawan rinduku, dimana bersama peluk kasih sayang Allah kita bersatu padu memukul kedzaliman. Lama nian tak bertemu. Rinduku tlah bertalu-talu. Sahabat-sahabat adakah kau masih ingat masa itu. Ketika tidur beralaskan spanduk demonstrasi, langit sebagai atap dengan tega menjurahkan air hujan, namun kita terlelap setelah seharian berteriak, “Pengkhianat, pengkhianat,” kepada wakil rakyat yang dengan bangga melakukan korupsi.

Ah masa itu tak datang lagi. Hanya sekali. Aku merindukan generasi yang sama. Generasi yang tak hanya berpikir, tapi juga bergerak, agar semua idealisme tak mati di tempat.

Kepada rajutan doa-doa, kuberharap kepada Engkau segala pengabul permintaan, lahirkanlah lagi generasi itu. Generasi yang berani…..Aku rindu pada kalian kawan-kawan. Rindu bersangatan. Rindu teriakan, “Lawan Kawan, LAWAAN.”

Rindu yang Terlambat (Cerpen)

17 Januari 2010

Aku kehilangan seseorang. Tak tahu kemana. Hilang begitu saja. Biasa aku melihatnya di sudut ruangan ketika meleset pergi karna suatu janji. Aku kehilangan nuansa ketika dia berputar-putar di ruanganku. Kehilangan teriakannya ketika ia diusili rekan sekantor. Aku kehilangan cemberutnya. Kehilangan daya melototnya yang tak bosan-bosan.

Cemberutnya dan melototnya itu yang dulu melunturkan semangatku mendekatinya. Seperti benci sekali dia atas segala tingkahku. Padahal aku hanya diam. Diam senyap saja. Tak kenal ia ramah kepadaku. Sikit pun tidak. Waktu itu aku kagum saja akan bentuk wajahnya. Merusak nuansa akan defenisi kecantikan general. Wajahnya tak biasa dalam deskripsi imajinatif umum mengenai seseorang yang cantik. Sebutlah kawan apa syarat gambaran cantikmu. Mancung, kurasa hidungnya tak mancung. Bisa jadi simpulan itu karna tak pernah ku ukur ketinggian hidungnya. Jangankan menyentuh batang hidungnya. Tersenyum saja aku dulu, langsung dapat pelototannya. Loh padahal aku senyum itu kan sebagai ketentuan ramah dalam bersosialisasi.

Syarat lain. Iya punya dagu lancip, tak juga, bahkan tidak. Rambut gerai mayang, pasti tidak kawan, karena dia berjilbab. Ssst ini salah satu penyebab aku suka. Jangan kau bilang-bilang kawan. Jakarta memang tak menjamin yang berjilbab adalah orang yang tepat, tapi setidaknya aku bisa nilai kawan ada religiusitas di hatinya. Bagiku itu penting.

Ah kemana dia? Dulu aku bersumpah tak mau kudekati dia lagi melihat pongah sikapnya itu. Tak menatap. Tak menyapa. Juga tak mau tak yang lain tak (kayak lagu dangdut yg dicipta bang Rhoma Irama). Aku sudah nyaman kalau begini. Sukurlah bayang-bayangnya cepat hilang.

Tapi satu masa. 3 tahun yang lalu. Ketika sebuah kecelakaan parah menimpaku. Akibat laju liar supir bis kota Jakarta. Suatu hal yang kumuak dari ibukota ini. Supir yang tak tendeng aling-aling. Padahal kukira supir di kampungku sudah sangat liar, tapi rupanya di atas langit pasti ada langit adalah merupakan filosofi yang tak surut berlaku.

Si supirnya menikung sekehendak laju hatinya. Aku kesal tak kepalang, alias aku kecut bukan main. Aku takut sekali dengan yang namanya “ngebut”. Ciut tak berkira-kira. Aku putuskan untuk turun sesegera mungkin di stasiun berikutnya. “Kiri bang, kiri…pinggir…pinggir,” kataku setengah berteriak. Ia melaju santai. Aku melotot kepada kondektur. Ia kikuk. Aksiku membuatnya ciut. Mungkin karena tingginya hanya sebahuku dengan tubuh merangas. Tangan si kondektur sibuk menepuk-nepuk pinggiran bis dengan tumpukan beberapa koin Rp.500 ditangannya. Laju bis tak mengendur. Aku kesal tak kepalang. Menuju pintu keluar. “Bang kiri bang,” kataku lebih keras. Ia bilang nanti agak kedepanan. Rupanya ia melihat sasaran penumpang lain ditikungan jalan. Ditikungan itu, dengan sangat mendadak, ia mengerem. Untung tanganku cukup kuat menahan diri agar tidak terpental. Ku turunkan kakiku. Tapi tak sedetik dari setelah kakiku beranjak. Tiba-tiba ia memacu laju gasnya. Padahal kakiku yang lain masih berada di dalam bis. Tak ayal aku terpelanting. Kakiku yang lain cepat ku tarik mengikuti tubuh.Tapi seketika senyap. Aku hilang. Tak sadarkan diri.

5 hari aku dirawat di Rumah sakit Pertamina. Untung seorang seniorku membantu menyelesaikan segala urusan administrasi. Aku mau ganti. Katanya tak payahlah sob yang membuatku berkaca-kaca. Selalu melankolis ketika bertemu orang baik. Aku bertanya tentang si supir sialan. Seniorku menjawab bahwa mulanya kawan-kawanku akan membawa perkaranya ke ranah hukum, tapi kemudian enggan karena melihat kehidupan keluarganya yang sudah jerih. Kasihan melihat anak-anaknya alasan kawan-kawanku. kalau sudah begitu aku pasti menerima saja. Toh kecelakakaan sudah menjadi bagian hidupku juga.

Aku hilang 5 hari dari kantor. Kau tahu kawan siapa yang panik. Gadis melotot itu. Siapa yang menanyakan kabarku melalui sms. Dia situkang cibir itu. Gadis yang sedang kudekati? Jangankan bertanya melirikpun tidak ketika dengan kaki yang masih bergips dan bertongkat aku masuk ke kantor. Waktu itu aku nekat ke kantor. Harus untuk menyelesaikan tanggung jawabku. Aku terkesima haru ketika bertemu si tukang melotot itu.

Aku ingat sekali ketika pertama kali bertemu setelah keluar dari rumah sakit. Beberapa teman kantor datang menjenguk. Ia salah satunya. Wajahnya. Ya wajahnya menyimpan khawatir yang luar biasa. Khawatir yang kurindukan dari dulu. Ketika aku terkesima. Aku lalu tersenyum. Ia juga. Setitik senyum yang kunanti dulu dari cemberutnya. Sebuah senyum tiba-tiba hadir ketika kakiku patah. Rupanya ini yang disebut sengsara membawa nikmat yang pernah dikarang oleh Tulis Sutan Sati itu. Aku seperti pahlawan yang baru pulang perang. Atau jamaah haji yang pulang namun terluka. Semua menyalami. Dia hanya diam saja. Dengan senyum khawatirnya. Aku tahu dia khawatir. Aku datangi dan mengulurkan tangan. Dia sambut. Lalu dengan tegap suaraku, kusebut namanya. Lalu karena sungkan dengan kawan-kawan lain, aku segera berpaling.

Tiba-tiba kehadirannya di kantor setelah peristiwa itu jadi berbeda. Bahkan harus kulantunkan seperti orang malaysia berkata berbeda, sekarang BERBEZA. Hal itu penting untuk memberi efek tekanan bahwa ketika itu kondisinya sangat berbeda kawan. Beberapa hari dia tersenyum tapi kemudian dia kembali melihatku dengan cemberut, melotot, bahkan dengan tega memalingkan pandangannya kepadaku. Alah mak, perbuatannya itu membuatku tertawa saja, bingung. Kehidupan kantor kembali berlalu seperti biasanya. Tak mau kusapa, tak mau kuajak makan siang bersama. Persis seperti biasanya.

Tapi tiba-tiba ia hilang saja. Seperti aroma wangi bunga taman yang terbawa angin sore. Hilang seperti bintang malam yang diselimuti awan pekat tanda hujan segera datang. Lenyap bak koruptor menghilangkan barang bukti. Tak bersisa. Aku sungguh sungkan bertanya kepada kawan-kawan lain, kemanakah gerangan dirinya. Aku rindu. Rindu yang terlambat. Rindu bak alang-alang padang rerumputan ingin ditanya seisi alam tentang kemanakah sang angin yang sibuk “menendang” mereka ke sana ke mari pergi. Rindu bak tanah-tanah gersang, tempat hujan tak sudi bertandang. Serindu lantunan pembawa senandung-senandung lama yang berimajinasi bahwa kekasihnya adalah pemberian berkah alam tak ada duanya.

Serindu itulah aku padanya. Untuk melihatnya di sudut ruangan itu tempat ku berkelebat lari memenuhi janji. Walau ia tetap akan cemberut, biarlah tak mengapa, asal aku melihatnya lagi. Serindu itu aku padanya, rindu yang terlambat.

Kuliah Ala Prof. Tandyo

(Face Book, 20 Desember 2009)

Saya pikir ini harus dicatat. Tidak hanya untuk daya ingat saya yang parah dan semakin tak fokus, tetapi juga untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Aziieee luhur nian dikau dek hahaha. Pencatatan kisah-kisah Prof. Tandyo (Soetandyo Wignyosoebroto) ini bermula dari kebiasaan kandidat doktor filsafat hukum kita, mas widodo, yg slalu antusias mencatat contoh-contoh langka Prof. tandyo.

Beberapa kisah sesungguhnya sudah pernah saya dengar pada perkuliahan khusus Filsafat Hukum yang diadakan oleh HuMa secara bertahap (akhir 2009-pertengahan 2010 yg datang). Namun kemudian saya semakin terdorong untuk menuturkannya di sini ketika mendengar “ceramah” beliau pada acara yg diadakan The Indonesia Legar Resources Center (ILRC) di Mahkamah Konstitusi tempo hari.

Cerita beliau;
Syahdan, ketika di jaman kolonial, hakim landraat menyidangkan sebuah perkara yang teramat rumit. Out of logical approach of law. Bagaimana tidak, sang hakim memperkarakan sebuah kasus yang bermula dari penampakan seekor celeng (dalam bahasa Indonesia dikenal dgn sebutan BABI..hehe) oleh seorang pria pada sebuah malam. Dengan hasrat melindungi kebunnya, si seseorang itu kemudian menombak sang babi. Tentu dengan kecepatan yang sempurna, ketangkasan yg tiada dua, dan ketepatan yang luar biasa, tombak pun bersarang tepat di perut bundar sang babi. Babi itu mampus seketika itu jua. Dengan bangga si seseorang kemudian pulang.

Namun esok paginya ia terbangun dengan dihebohkan oleh keributan orang-orang di desanya yang berkumpul. Mereka membicarakan ada “fulan bin fulan” yang terbunuh di kebun si seseorang. Si seseorang itu kemudian terkejut. Ia mengakui bahwa tadi malam ia memang menombak babi, ia yakin sekali bahwa itu babi karna jelas ketika mencabut tombak bahwa itu memang babi. Seketika, berdasarkan pengakuannya, seseorang itu kemudian resmi menjadi terdakwa di persidangan langraat.

Hakim dalam persidangan kemudian berdasarkan logikanya, menemukan alur kejadian, bahwa telah terjadi penombakan dan telah menyabkan matinya seorang manusia. Yang harus dibuktikan sang hakim dalam persidangan adalah, pakah penombakan itu tidak disengaja, disangka babi ternyata manusia, atau memang terdapat unsur sengaja untuk membunuh manusia.

Namun fakta-fakta persidangan menggiring si hakim pada bukti-bukti bahwa asumsi si seseorang yang melakukan penombakan sangat beralasan berdasarkan keyakinan masyarakat. Bahwa masyarakat tempat kejadian mempercayai bahwa memang banyak berkeliaran babi-babi jadi-jadian. Kemudian berdasarkan penyelidikan di rumah korban, ditemukan bukti-bukti yang mendukung asumsi masyarakat, bahwa ada lampu, tikar, sesajen, dan lain-lain yang biasa dipercaya masyarakat sebagai alat yang digunakan babi ngepet. Nah loh…

Fakta-fakta tersebut, membuat hakim berpikir tidak mengedepankan persepsi ilmiahnya, namun mencoba merasakan asumsi yang hidup di masyarakat. Kemudian ia memutuskan di terdakwa tidak bersalah.

Cerita tersebut dituturkan oleh Prof. Mulyatno kepada Prof Tandyo. Bg yang membaca tuturan ini mungkin susah menemukan kelucuannya, namun bagi yang bergiat dalam pemikiran hukum, filsafat hukum, dan penemuan hukum, kiranya pasti menemukan “nilai” lelucon pada cerita Prof. Tandyo tersebut.

Opss..cerita beliau lainnya masih ada…

Menurut Prof Tandyo, cara berhukum yang semata-mata mengandalkan hukum positif, hukum tertulis (produk perundang-undangan), seringkali tidak akan menemukan keadilan dalam capaiannya. Misalnya kata beliau, jika undang-undang perkawinan betul-betul ditaati sebagaimana konteks tertulisnya, maka akan menjadi kerumitan luar biasa dalam berrumah tangga.

Berdasarkan UU Perkawinan, maka suami yang tidak memberikan nafkah kepada istrinya selama 3 bulan, maka secara tidak langsung si suami telah menjatuhkan talak1 kepada si istri. Sehingga si Istri dapat mennyatakan kepada pengadilan bahwa ia dan suaminya telah bisa bercerai.

Implikasi aturan tersebut semestinya, menurut Prof Tandyo, membuat setiap suami harus berwaspada ria. Setiap bulan setelah memberikan slip gajinya kepada sang istri, ia harus tidak lupa meminta tanda-tangan si istri pada blanko tanda-terima gaji. Hal itu untuk mewaspadai jangan-jangan suatu saat nanti ketika pikiran jelek menghampiri istrinya untuk bercerai, bisa saja si istri mengaku kepada hakim sudah tidak menerima gaji 3 bulan dari sang suami. Akibatnya ya cerai. Sehingga suami-suami harus waspada. Itu jika setiap orang berpikir positivistik dalam hukum.

Aku dan kawan-kawan yang mendengar cerita ini kontan tertawa-tawa. Jelas itu tidak mungkin pengalaman pribadi beliau, karena setahu kami, beliau sangat penyayang dan setia terhadapa almarhumah ibuk tandyo. Dan itu kata kawan-kawan sudah terbukti keshahihannya.

Joke lain. Kata Prof. Tandyo, suatu ketika seseorang di tangkap polisi lalu lintas karna melanggar lampu merah. Si Polisi langsung menilang dan menanyakan kepada si pelanggar, “kenapa kamu melanggar aturan berlalu-lintas, menembus lampu merah.” Si pelanggar dengan senyum kemenangan, kemudia berkata,” saya tidak pernah melanggar lampu merah, saya hanya melewati tanda lampu lalu-lintas yang sudah tidak hijau lagi,” katanya tenang. Prof Tandyo menceritakan hal ini utnuk menggambarkan bahwa cara berhukum kadangkala begitu mudah untuk ditembus. Oleh karenanya mari jangan berpikir positivistik dalam berhukum…

The Real Romeo and Juliet

13 Desember 2009

Selama di Padang banyak cerita dan nasehat menggugah. Salah satunya adalah kisah cinta luar biasa. Ketika sampai di bandara bersama dua orang Guru Besar Hukum Tata Negara, tiba-tiba salah satunya bercerita tentang kisah cinta seorang kakek imam di sebuah masjid di kampungnya.

Aku tak tahu persis kisah awal mula pasangan imam masjid itu dan istrinya menjalani rumah tangga. Tak beranilah aku bertanya. Pokoknya cerita bermula dari mereka sudah menjadi suami istri saja. Kata Prof itu, sang imam dan istrinya ditimpa cobaan. Tiba-tiba sang istri mengalami kelumpuhan. Sedihnya, kelumpuhan itu semakin hari tak menunjukan tanda-tanda kesembuhan. Namun sang imam masjid tak berubah kasih sayangnya. Dengan tekun ia merawat istrinya. Tak ada keluhan. Yang ada hanya ketabahan, senyuman, dan harapan.

Tapi dalam garis nasib, Allah punya kuasa menentukan. 20 tahun dengan setia sang imam merawat istrinya. Menyuapkan makanan ke bibir yang dulu dikaguminya. Menegukkan minuman agar leher jenjangnya yang dulu indah agar mampu bergerak naik turun merasakan tetes air kehidupan. Menyisirkan rambut indah mayangnya yg dulu seringkali di belai sang imam dengan kasih sayang. Dan semua berlangsung 20 tahun lamanya. 20 tahun bukan perkara sebentar kawan. 20 tahun, aku benar-benar terkesima mendengar cerita ini. Masih ada kisah cerita cinta sejuk dalam realita bak dongeng Zainudin dan Hayati dalam karya masyhur Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal van Der Wijck.

20 tahun setelah melalui cobaan itu, akhirnya sang istri dipanggil Allah sang Maha Kuasa. Ia berpulang dalam dekap sayang sang imam. Semua orang baru menyadari bahwa duka cinta itu telah berlangsung selama 20 tahun. Namun sang imam berkata,”alhamdulillah istriku dipanggil terlebih dahulu dariku.” Orang-orang menduga kata-katanya itu bermakna ia akan mencari istri lain. Rupanya kesabarannya menunggu selama 20 tahun ini hanya canggung menikah ketika sang istri sakit. Tetapi kalimat dari sang imam berikutnya yang membuat banyak orang hening dan takzim. “Tak terbayang jika Allah menjemputku terlebih dahulu, siapa yang akan merawatnya,” kata sang Imam menerawang.

Aku yang mendengarnya merasa bergidik. Kikuk. Aneh saja jika kekuatan cinta sungguh-sungguh itu ada dihadapanmu. Aku merenung, apa sebab kekuatan seperti si imam itu ada. Seketika aku ingat nasehat seorang guru yang baru pulang dari negeri kincir angin, Belanda. Katanya perkawinan itu selain berkomunikasi dengan baik juga paling penting menyamakan “penyebut”. Penyebut, apaan itu pak, ketika itu aku bertanya.

“Angku (kamu-minang) tahu dengan teori bilangan pecah dalam matematika,” katanya. Tentu saja aku tahu, aku mengangguk ligat penasaran dengan ceritanya. “Dalam matematika bilang pecah akan mudah ditambahkan apabila penyebutnya sama, tinggal menambahkan pembilangnya,” jelasnya enteng.
Aku manggut-manggut. Entah mengerti, entah bingung. Namun aku yakin kisah sang imam yang diceritakan dua guru besarku itu jelas merupakan contoh pasangan yang mampu menyamakan “penyebut” melalui komunikasi yang indah. Komunikasi yang mampu membuatmu bertahan dalam suka dan duka. Komunikasi hati yang walau dalam kesunyian akan mampu membuatmu dan pasanganmu salaing mengerti dan memahami. Seperti kisah cinta Rasulullah dan Khadijah. Memesona bagi yang ditinggalkan. Hikmah bagi yang sibuk merangkai kesalahan pasangannya. Mutiara bagi lumpur-lumpur masalah rumah tangga. au..au..au…
Ooooo begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir (Pat kay mode On). Semoga mampu mengambil hikmahnya sob!!!

Ceban dan Kapitalisme Vs Anak Kampung

Kamis, 26 November 2009

Di suatu minggu yang tak menyenangkan. Urat ngatukku hilang. Ingin tetap tidur. Supaya banyak memori hilang. Tak bisa. Aduuh, biasanya aku fasihqq (mohon gunakan kholah-khlolah yg benar) benar tidur sesudah shubuh. Hadist nabi mental kemana. Ancaman otak bebal diabaikan. Tapi kali ini benar-benar tak mempan. Guling ke kanan. Guling ke kiri. Tutup mata dgn bantal. Baca doa tidur dgn penghayatan tiada tara. Allah tahu daku lebai. Alhasil; Maaf boi, matamu tetap menyala. Aduuh.

Okay. Mari kita bermie ayam ria. Seketika otakku yang setara 17.8000 komputer dgn memori 1 MB itu (lemot bgt pastinya) berfungsi dengan baik. MIE AYAM, MIE KERITING luwes yang terkenal itu menghiasi dinding hatiku. Bangkit. Melenting tubuhku ringan layaknya wiro sableng lagi semangat bgt. Mandi n langsung melejit ke daerah kebun kacang dekat Tahmrin City. Tidak sampai sepeminuman teh (alah..apa coba) aku sudah menyantap Mie Ayam maknyus itu. Aduhai rasanya. Tiada terkira (upss jangan nelan ludah gitu dong guys hehehe). Tapi alangkah malang nasibku. Masih juga ngak nyaman. Oh ya. Aku ingat iklan besar di Thamrin city plaza (plaza apa mall ya, ahhhh terserahlah). “Jual Buku Bekas Kwitang.” Hebat ngak tuh di gedung angker (angkuh n bukan buat yg kere-maksa mode ON) itu ada jual buku murah. Hai..hai…mari kita berburu…

Eh iya benar walaupun masih sepi di lt.3A itu terlihat jejeran kedai-kedai kecil penuh buku. Kwitang Mode ON. Aku tahu benar aroma buku-buku murah itu. Aromanya berbau, “MURAAAAAAH”. Benar saja, asli, murah. Bayangkan aku bisa beli buku kumpulan cerpen terbaik kompas 2000, Novel Toha MOchtar, Buku Filsafat ilmu, Filsafat Hukum, American History, novel karya Jose Rizal (Tan malakanya Filipina ini), dll. Semuanya tidak sampai Rp.100.000. Wau..au..au, alangkah bahagia nian hatiku. Tapi malapetakanya cui adalah ketika membeli buku kumpulan cerpen terbaik kompas 2000 itu. Aku melihat jelas. Dengan mata kepalaku sendiri, tertulis, “Dijual Rp. 10.000.” Tergantung memesona. Aku langsung sikat tuh novel. Baca biodata para penulisnya. Makin yakin, pasti bagus.
“Bang brapa ni harganya,” tanyaku meyakinkan.
“Ceban,” jawab si abang dengan sauara padat.
“Hah…Ceban tu brapa bang,” kataku ingin kepastian.
“Ya sepuluh ribu,” katanya dgn nada menahan tawa.
Ooooo hehehe tertawalah kalian bahagia terhadap kepayahanku ini kawan. Aku benar-benar malas menghapal istilah2 harga yang berasal dari saudara kita yang tionghoa dan dipopulerkan oleh penduduk betawi itu. Saking malas mengingatnya, aku juga pernah batal total membeli buah di jalan hanya karna tidak tahu harga pastinya. Dulu ketika penelitian skripsi, aku haus bgt di seputaran Atrium senen selepas mencari buku di Kwitang (waktu itu belum digusur). Pas ngelihat tukang buah. Wah pas ini. “Brapa semangkanya satu bang?” tanyaku dgn nafsu.
“**^@@ (aku lupa sebutannya)” katanya.
Aku langsung tercekat. Ngak ngerti **^@@ berapa nilai rupiahnya. Aku sih menebak paling juga RP.1000. Tapi bagaimana kalau tidak. Pasti aku malu khan. Ah sebenarnya bisa diakali diberi uang yang lebih besar nilainya. Tapi uangku ratusan ribu (aziiieeee) jadi pasti si tukang buah ribut deh. Ya udah mundur jalan grak.
Parah khan. wakaka.
Namun, tentu aku punya alasan top markotop untuk mempermasalahkan penggunaan bahasa tionghoa tersebut.
Pertama, kata-kata tersebut tidak menunjukan semangat kesatuan. Ingat sumpah pemuda brother. Satu bahasa, bahasa indonesia. Hehehe ngeles yg patriotik.
Kedua, dari segi penjualan. Bahasa Tionghoa yang digaulkan itu justru hanya digunakan oleh pedagang kecil di kota-kota besar (terutama Jkrta). Ngak pernahkan pergi makan di Pizza Hut, J-co, dll kemudian ketika membayar pesanan mendengar dari sang pelayan harganya dalam bahasa betawi. Misalnya;
“Maaf pak seluruh pesanan bapak, harganya ceban.” Ngak bakalan ada khan.hahaha iya khan.
Hal itu karna si penjual bermaksud menjual daganganya keseluruh warganegara Indonesia. Nah resep ini yang seringkali tidak disadari penjual kecil. Mereka tidak menyentuh rasa kenyamanan pembeli. Akibatnya yang membeli dari kampung (seperti penulis hehe) pasti punya keraguan besar utk membeli. Sehingga terpaksalah aku membeli buah ke supermarket (yg ini murni bohong bgt).

Maksudku begini. Para kapital (pemilik modal) benar-benar sangat memperhatikan cara mereka berjualan. Sayang para penjual kecil tidak memperhatikan dengan baik. Padahal dengan bersaing baik-baik saja mereka sudah kalah apalagi tidak dgn taktik yg baik. Lihat bagaimana kapitalisme dengan cerdik merusak tatanan para penjual kecil. Ingat kwitang berjaya dulu khan. Kemudian digusur. Eh tahunya di Thamrin city malah mereka ditawarkan membuka toko-toko kecil. Para pemilik modal yakin bahwa bisnis mereka menguntungkan di negara miskin minat membaca ini. Dengan licik mereka mendukung penggusuran kwitang krn akan menyayingii toko buku mereka, tetapi para pemilik modal itu memperbolehkan mereka berjualan di Plaza. Para penjual buku “kecil” itu kemudian menjadi alat para pemilik modal untuk meraup keuntungan.

Waduh. Hari sudah siang. Zhuhur segera mengagenda. Aku harus pulang dari toko buku ini. Hehehe anggap ini renungan bocah kampung yang terjebak kerumitan ibukota..wakakaka tentu anak kampung ini bisa membaca kelicikan musang-musang ibukota.wakaka ngelez lagi…hehe yah begitulah pemirsa, kawan-kawan ku sekalian intinya adalah; adakah yang mau mengajarkan aku penyebutan harga-harga dalam bahasa tionghoa betawi tersebut? Ingat mengajarkan satu ilmu itu nilainya tinggi di mata Allah SWT.. Allah sayang org yang senang berbagi ilmu..tul khan…pleasseeee…alaaaah wakakakal rumit ya cuma minta tolong aja hahaha….

Kebahagian paling sempurna (sebuah Cerpen)

Senin, 23 November 2009

Aku sibuk membersihkan bunga-bunga kesukaan ku. Terutama bonsai. Tiba-tiba ku dengarkan umbaran tawa mu. “Sayang, apa kamu tidak malu, dilihat tetangga seorang laki-laki rajin merawat bunga,” kata istri ku. Aku tersenyum saja. Berdiri menatapnya dengan senyuman terbaikku. Persis ketika dua puluh lima tahun yang lalu aku bertemu dengannya di kooridor sebuah kantor ibu kota. Tentu senyum ku kali ini tidak diiringi kikuk bibir ku. Tak perlu kuceritakan betapa groginya aku ketika itu. Aku malu menceritakannya.

“Kemarilah, kuberi tahu sesuatu hal penting yang perlu kau ketahui sayang,” panggilku padanya.
“Apa tak bisa kau sampaikan dari sana saja sayang, aku khawatir anak-anak,” katanya dengan suara lirih. Takut anak-anak kami terjaga dari peraduan siang mereka. Begitulah dia. Semakin membuat ku cinta. Ia sempurna menutupi kurang ku. Melengkapi.
Jadi kuhampiri dia. Mencuci tanganku di keran pinggir rumah kecil kami. Aku tersenyum. Menyimpan misteri maksud ku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami bertatapan. Seperti sepasang kekasih yang sudah tak bertemu lama. Aku sentuh dagunya ketika ia mulai malu akan tatap ku.
“Sayang…tahukah engkau bahwa bunga itu adalah keindahan, seperti pelangi sehabis hujan, seperti bintang dan bulan dikala kelam datang,” kata ku menyimpan senyum ku.
“Mereka melengkapi kekurangan, itu sebabnya mereka indah, sebagaimana kamu sayang, kamu melengkapi saya, menutup kekuranga saya, itu sebabnya kamu indah,” kata ku jujur sekali.
Kamu tersenyum. Merah pipi bulat sempurna mu itu.
Aku pegang tangan mu. Tiba-tiba wajah mu berubah pucat. “Sayang kamu kok keringatan,” kata mu cemas.
Aku memegang keningku. Sore ini sejuk. Semilir angin dimana-mana. Pekerjaan berkebun bukanlah berat sangat. Aku berkeringat deras. Bukan seperti dua puluh lima tahun yang lalu ketika baru pertama berkenalan dengan dirimu yang membuat ku banjir keringat. Aku hapus. Semakin tumpah ruah keringat membanjiri tubuhku. Kau semakin cemas. Wajah mu tiba-tiba semakin pias.

Tiba-tiba aku menyentuh angin. Tubuh mu menghilang. Wajahmu makin samar. Aku semakin berkeringat. Aku berusaha memeluk mu. Tapi tubuhmu terlanjur menjadi angin. “Sayaaaanggg, jangan-jangan,” teriak ku. Tapi kau telah lenyap tak bersisa. Tangan ku menjulur-julur. Aku terbangun. KEringat dimana-mana. Tapi engkau lengkap tiada. Aku menggeser sleeping bag ku. Gerah. Aku berdiri. Tegak menghadap langit. Di puncak ini aku memimpikan kembali kamu. Di puncak semeru ini. Kau tak bisa lenyap. Aku mengutuk hati dan otakku. MEnggigit lidah ku sendiri. Teringat ketika engkau mengatakan bahwa kau telah berpunya. Kata itu menusukku perih. Sepuluh tahun lalu ketika usaha ku meraihmu menemukan jalan buntu. Jalan yang tak akan mampu ku bongkar. Karna kesempurnaamu itu kau layak mendapatkan apa yang telah menjadi takdirmu. Seseorang yang lebih dari ku. Aku menghibur diri. Bagi ku itu bagai pelangi di dalam pelangi. Tak melengkapi. Bukan kesempurnaan.
Aku beringsut ke sebuah batu. Duduk merapatkan tangan ku ke dagu. Membayangkan wajah mu. Menyentuh mu di langit, di puncak gunugn di mana idolaku menemukan ajalnya. Aku menatap nisan Gie. Sambil membatin, kita serupa nian kawan. Tak apa. Orang beruntung adalah orang yang mati muda.
Aku beringsut. Berdiri. Bergeming. Lama menatap ke mayapada. Tempat Tuhan menggambarkan bahwa kesempurnaannya disuguhi dalam dirimu. Ketika aku ingat senyum mu. Aku berteriak. Kuat sekali. Tak ada suara. Lenyap bersama angin dan titik airmata penyesalanku pernah mencintaimu.
Tiba-tiba aku ingat sholat. Dalam keremangan malam. Aku berdoa. “Berilah dia kebahagaian paling sempurna dari kebahagian yang telah kau lepaskan di bumi indah mu ini ya Rabb,” ucap bibirku gemetar.
Selamat jalan…

Sebuah Cerpen..
Kebun Kacang, Jakarta, 23/11/09….
Mengenang keberadaan mu….

FRA.

Wanita dan Misteri Merah Jambu

Senin, 16 November 2009

Ini bukan bercerita tentang kutukan…krn akibatnya dunia jadi indah…Bukan pula tentang absolutisme…hanya praduga…sesungguhnya wanita itu adalah misteri dan selamanya tetap sperti itu…
Merah jambu…pernahkah kalian melihat wanita menggunakan segala sesuatu yang berkaitan dengan merah jambu? Jawabmu pasti banyak…seperti motor bebek di jln2 di Indonesia, sperti org menderita flu di musim hujan, seperti lalat di tempat sampah..sperti blackberry di tangan org2 penting dan kaya…sperti org pacaran di monas krn demi penghematan..rame bgt…ngak ada habisnya…merah jambu dimana-mana…pinkaholic…

Nah seringkali aku melihat istrinya dosen pembimbingku dan anak-anaknya pake baju berseragam merah jambu…cewek-cewek di kantuuur juga pake merah jambu…kadangkala seperti ada announcement khusus, entah melalui sms entah melalui kontak batin indera ke 6 agar wanita-wanita di kantur pake baju, jilbab, sepatu, boneka, bantal, apa saja yg ada “bau-bau” merah jambunya…bahkan minggu kemarin aku melihat seorang bapak pemimpin perpustakaan menggunakan sendal merah jambu…para wanita histeris menganggap si bapak lagi terkena penyakit “melambai” tak terkira-kira…puberitas absolut…puberitas menjadi2 ketika usia menyenja…padahal sperti kata jason Mraz, I’m Geek in the Pink…Laki-laki itu aneh saja pake pink…kalau perempuan? nah mari kita ungkap kenapa perempuan begitu mencintai pink…

Hipotesa ku begini, merah jambu itu warna tengah antara putih ke merah, atau dari merah ke putih…bs dr putih ke merah atau merah ke putih…ngak jelas yg mana yg pasti..dari merah kah dulu atau dari putih..ia ambigu…memberi ketidak pastian…nah yang akan melihat, berinteraksi, dan berkomunikasi akan mengalami kebingungan juga…ia memberikan ketidakpastian bukan karena oon, lemot, budu n sejenis-sejenisnya yang lain…tetapi ia memberi ketidak pastian layaknya matahari tak pasti akan bersinar hingga petang krn bisa jadi hujan di siang hari, walaupun ia pasti akan menghilang di malam hari…namun ia sesungguhnya tidak menghilang…ia hanya sedang berlabuh di sudut bumi yang lain…

Merah jambu…dalam puncak kulminasi pilihannya ternyata kemudian tetaplah ia adalah merah jambu…menyembunyikan banyak hal di hatinya…menutup kata hatinya…bukan utk berbohong tapi seperti lautan…menyimpan praharanya dengan menunjukan tepiannya yang tenang…kau bisa ditenggelamkan di dalamnya…kau terancam namun kau membutuhkannya untuk sampai ketujuan hidupmu…seperti seorang temanku yang “dimerah jambukan”…baru saja dia tertawa senang tiada kepalang…sejurus kemudian sms datang membuat ia menulis di wallnya; sebuah pintu yg telah berpenghuni dan bertuliskan don’t entry….

Walaupun begitu merah jambu adalah keajaiban dunia…memperlihatkan logika kita tak mampu berjalan seiring dengan kehendak hati…merah jambu bisa seperti merpati…mendekati ketika kita diam namun melarikan diri ketika didekati…sehingga bisalah kita ganti jinak2 merpati menjadi jinak2 merah jambu…

Hidup memang kadangkala adalah pilihan…memilih merah seutuhnya atau putih sempurna…tapi kuberi tahu kawan merah jambu pun adalah pilihan…maka yakinkanlah ia bahwa dalam kemerahjambuannya ada unsur dirimu di dalamnya yang menyatu sempurna…unsur merah atau putih jiwa dan ketulusanmu…merah jambu dalam ketidakpastianmu…ku pastikan hatiku menghargai keraguanmu…

Logika Terbalik

Kamis, 12 November 2009

Membaca novel Negeri 5 Menara karya UDA Ahmad Fuadi ternyata menghibur utk minggu ini. tapi aku menemukan logika menarik. Katanya ustadz2 di novel itu, juara itu hanya masalah “sedikit”. Juara lari 100 meter yg masyhur hanya unggul sepersekian detik. Untuk jadi juara kau hanya perlu “sedikit”. Jika yang lain belajar dari jam 8 sampai jam 10.00 kau cukup melebihkannya menjadi sampai jam 10.30…dengan begitu usaha yg lebih unggul akan memberikan hasil yg unggul pula.

Logika itu walaupun mengena dan memberikan pengaruh yang hebat kepadaku brapa hari ini. Tapi otak dangkal ku ternyata mencoba menalar berbeda. bagaimana kalau digunakan logika terbalik untuk kasus-kasus tertentu pula.

Misalnya, dalam belajar, tidak penting kuantitasnya lebih banyak dari yg lain, tapi bs jadi kualitasnya yg dibenahi. Untuk apa juga belajar panjang-panjang kalau konsentrasinya ngak maksimal. Sibuk memikirkan ketemu si anu..si itu..or siapalah gitu…ngak penting khan kalau bljar ngak konsentrasi dan bergaya di depan buku tebal berjam-jam tapi yg masuk cuma seperempat lembar halaman 1 saja.

Hal yang sama dengan tidur. nah walau ini bertentangan dgn batin. Tapi bisa jd good example lah. Tidur walau lebih 8 jam tapi dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas juga memberikan hasil yg ngak maksimal tohhhh wakakaka. Nah maka walau tidur 7 jam.58 menit (nah loh wakaka) dengan posisi sempurna…Menelentang sempurna…maka akan memberikan rasa yang lebih aduhaiiii…gmana menurut mu betul khan…Betul dunk…

Jadi menurut ku ya…skali lg menurut pengamatan ku yg dalam dan tajam serta terpercaya ini…logika terbalik itu penting bgt…makanya dalam banyak hal lebih bermanfaat…mari kita sigi skali lagi..

Dalam hal agama…ketika org2 berpikir tidur, maka kita dianjurkan bangun…lihat deh betapa banyak yang hobi tidur ktika shubuh…jika menggunakan logika…ngapain juga bangun pagi-pagi…ya khan…tapi di sinilah pintarnya Allah untuk melihat sberapa sih kesungguhan hambanya…apalagi kalau jenengan di wajibkan sholat tahajud…pasti mampus…terutama aku sendiri…si raja tidur sesudah shubuh…

Puasa…logika normal kita mengatakan…puasa khan bisa di depan org saja…toh kita bisa makan/minum diam-diam tanpa ketahuan siapapun…sehingga tidak ada masalah kemudian jika tiba-tiba berbuka kita berlagak seperti paling puasa sedunia…bibir dikering-keringkan…nah namun lagi-lagi sesuai hadist bahwa kata Allah; “puasa itu untuk Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya.” Ini berarti puasa bukanlah hubungan horizontal..ia vertikal…tak perlu logika standard…mesti menggunakan logika terbalik…

Nah walaupun tidak pas-pas benar..tapi aku mulai yakin kalian akan terpengaruh…jujur sajalah wakaka…Mario Teguh saja kemaren mengiyakan…terutama dalam kedangkalan pemahaman ku…okay boi…dari pada tidak menulis khan lebih baik menulis yah hehehehe…
HIDUP LOGIKA TERBALIK…

Ditawari jadi Menteri SBY-Capeek de

Selasa, 20 Oktober 2009

Tiba-tiba Black Berry 9500ku berdering (sssst Samsung ding)…
“Hallo Assalamualaikum warrahmatulahi wbarakatuh dengan siapa di sana,”kataku. Suara diseberang batuk-batuk.
“huk..huk..WWW mas feri, saya sudi sialanhi, sekretaris kabinet SBY ituloh,” jawab suara diseberang.
“Sudi siapa… maaf?” kataku.
“SUDI SIALANHiii..sekretaris kabinet Bapak SBY (Soeharto bgt yah, pake bapak2),” katanya dgn sedikit ditekan.
“ooo Sudi yang itu, ok..ok ada apa yah pak sud,” kataku paham.
“Begini mas feri..boleh saya panggil dek feri saja, ok boleh ya (nah loh sok akrab bgt yah)…jadi kita berdasarkan petunjuk Bapak SBY (tuh kan Soeharto bgt khan) setelah berdiskusi panjang, renungan mendalam dan dengan teliti mencari tokoh-tokoh muda luar biasa akhirnhya berdasarkan petunjuk Bapak Presiden (*@#&** agrgrgr kesal deh) kami ingin meminta kesudian adek feri utk menjadi Menteri Peranan Wanita…bagaiman dek?” katanya dengan lugas.
“Peranan wanita…loh dimana hubungannya mas sud…saya studinya Tata negara (aziiieee) cocoknya jadi hakim konstitusi or minimal Presiden lah,”kataku lebih sok pede…
“Loh Bapak kan sudah presiden dek fer…lagian kami berasumsi mas feri yang sangat kenal dengan dunia wanita, ahli kewwanitaan, dan begitu memahami wanita, betul-betul dan sungguh-sungguh kami harapkan mau dan mampu mengurus seluruh wanita se Indonesia,” katanya dengan berapi-api…
“Waduh mas sud…saya kan bilang saya ini belajarnya hukum tata negara..lagian mana pernah laki-laki jadi menteri peranan perempuan dari jaman batu…ah saya ngak sudi,” kataku mulai kesal..
“loh yang sudi itu saya dek fer,” katanya
“ya udah saudara saja yg ngurus wanita sono,” aku mulai kesal…
“loh kan mas yang pakarnya.”
“pakar apaa?”
“pakar wanita.”
“ah saya ngak sudi. titik.”
“ya iyalah saya yang sudi atuh mas.”
“ngak sudi.”
“ya udah gmana kalau Menteri Penerangan,” katanya sudi menawarkan lagi
“tugasnya apa?” tanya ku
“pokoknya dek feri tinggal ngucapin berdasarkan petunjuk bapak Presiden…selesai deh..itu doang.”ujarnya menjelaskan.
“loh itu kan bakat saudara, saya ngak sudi,” kataku kesal.
“lah saya sudi ini dek fer,”katanya
capek deh,,,,
kalian juga capek khan dengan joke garing ala srimulat ini hehehe…ya udah gitu diang hehehe

VOX DEI VOX LUV

30 September 2009

Ini kisah para sahabat-sahabat ku. Menjadikan cinta mereka sebagai sebuah kekuatan. Tapi tak lupa untuk tidak mengabaikan sebuah kekuatan besar yang mereka yakini.
Pejuang pertama adalah seorang yang menghabiskan waktunya untuk menunggu. Menunggu waktu yang tepat. Padahal waktu yang tepat tak pernah datang. Waktu yang tepat itu seperti gincu di sebuah bibir. Hanya penghias sesuatu yang disebut palsu.

Sahabat ku ini dirundung ragu karna si calonnya sudah menjadi pekerja yang berpenghasilan. Sedang ia masih yang dulu. Berjuang menembus angin-angin malam untuk sesuatu yang halal untuk pengisi kisi-kisi kosong kantungnya. Seorang yang pintar kadangkala memang terabaikan kawan. Ia menunggu takdirnya agar suatu masa mendapat pekerjaan yang layak dan kemudian melamar sang gadis yang juga setia menunggu. Tapi dia tidak tahu bahwa takdir yang lain sedang dekat dengannya. Bahwa si gadis sedang ada untuknya.Tak banyak permintaan yang gadis itu inginkan dari sahabatku. Tapi sebagai laki2 adakalanya ia harus bertekad hati untuk menjadi kepala keluarga yang dihargai. Apalagi beberapa orang yang senasib dengannya mengalami hal yang memilukan oleh perbuatan istrinya. Trauma jejaring. Trauma yang tidak ada. Trauma yang palsu. Tak mungkin takdir orang lain ditentukan oleh nasib manusia lain kawan.

Kataku kepada mu kawan. Engkau beruntung sekali. Padahal dia tak memintamu menjadi lebih. Karena lebih bisa jadi merubahmu menjadi seseorang yang bukan seperti pria yang dia tunggu selama ini. Pekerjaan layak bukanlah segala-galanya sahabat. Lebih baik jika kau punya dua hati untuk disatukan daripada kau punya pekerjaan yang layak tapi hati mu terbelah. Uang memang bisa mendatangkan pendamping tetapi belum tentu mampu mendatangkan hati yang kau idamkan. Lebih baik menjadi lelaki yang diabaikan wanita karna uang daripada menjadi bajingan yang mengejar wanita karena banyak uang…haram jadah untuk kita itu kawan. Bukan begitu.

Sekali lagi kataku kawan. Jemput dia. Katakan yang paling dalam yang kau miliki. Jangan kau tunggu pekerjaan. Karena pekerjaan tak pernah setia menunggu mu. Sedang Dia setia untuk mu. Walau tak ada yang abadi bukan. Peduli setan dengan yang namanya pekerjaan yang layak. Jangan kau hina dinakan dia sebagai seseorang yang menyembahmu karna jabatan. Dia ada untukmu karna hatimu. Tunggu apalagi.

Sahabat kedua, seorang muda yang memangku adat. Sudah disebrang lautan ia sekarang. Merantau. Sebagai pemuda minang urat nadinya hanya bisa hidup karena udara rantau. Tapi pesona gadis kampung jua yang memikat hatinya. Tapi di kampung itu kaya dan miskin adalah fenomena loyang dan emas. Susu dan cuka. Gula dan garam. Tak mungkin disatukan. Kata ibunya, “terlalu tinggi dia untuk kita.” Tapi sahabatku berkeras. Hati yang dibentuk oleh Allah sang pencipta bukanlah hati yang terkotak-kotak. Tidak ada hati untuk yang kaya dan hati untuk yang miskin. Bukan dan sekali lagi bukan. Kau berkeras sahabat. Tenang namun kau terus melaju.

Suatu ketika dengan tiba-tiba kau nyatakan, “Ia sudah di samping ku kini, IN relationship.” O yeah. Rock on babieeeh. Fakta menyatakan hati tak memandang strata.Oleh karenanya ia memperjuangkan perasaan hatinya.

Sahabat ketiga. Ia pemuda biasa. Tenang. Tak banyak bicara. Dari dulu ia sudah kena hati dengan gadis itu. Ia terkendala. Tak punya kekuatan untuk berjengkrama. Satu di Ibukota dan satu di sumatera. Tapi ia katakan tak ada jarak pemisah untuk hatinya. Semua harus diperjuangkan. Facebook, email, friendster dan sejenisnya bertindak kilat. Handphone dan smsnya juga diupayakan. Namun waktu tak pernah bersahabat dengan benda-benda elektronik. Tapi pantang ia berputus asa. Bermuram durja hanya sesekali karna ia jua manusia. Namun bukan untuk mati hati. Masih terus ia perjuangkan. Lebaran kemarin dengan tekad bulat lebih dari pejuang ’45, ia datangi rumah itu cewek (tentulah mintak izin si cewek sebelumnya). Ajiiib bin dahsyat. Tiba-tiba ia tidak hanya disambut si gadis, melainkan satu keluarga. DIa di ajak pergi makan malam keluarga. Ia terpesona. HIdup punya jawban tersendiri akan kisahnya. Tak disangkanya sambutan akan seluar biasa itu. Namun waktu tak bersahabat dengan hati. Ia harus berangkat pergi ke ibukota meninggalkan kenangan luar biasa. Dia tak harus berduka karena suatu saat ia akan kembali. Janji hatinya. Menjemput sebuah “bulan” agar menerangi malam-malam harinya.

Sahabat keempat. Kisahnya seperti film India. Oleh sebab itu ia kupanggil sahrul khan. Berjuang berbilang tahun. Tak mau menyerah akan penolakan si wanita. Ia tahu suatu masa si wanita akan untuknya. Tak peduli ia terus diabaikan. Karna menurutnya hati wanita selembut es. Kau hanya perlu istiqomah memberinya secuil cahaya. Tiba masanya, es keras akan berkeping dan mencair. Kau percaya jujur hati lebih utama dari segala-galanya. Tanpa disangka setelah menempuh pelbagai waktu dan cobaan dengan kesabaran. Tiba-tiba wanita itu menganggukan kepalanya, menundukkan hatinya. Iya hanya untukmu.

Sahabat kelima. Suatu masa seorang wanita cantik berhasil didekatinya. Kampuspun bergelora. Facebook dipenuhi gosip tentang percintaannya. Tapi malang sang gadis tak seperti yang diduganya. tak selembut lekuk wajah dan tutur ucapanya. Ia menyimpan dendam kehidupan. Ingin menjatuhkan setiap lelaki dipeluknya. Sahabatku coba tabah. Mau meluruskan sesuatu yang timpang. Tapi si gadis mengabaikan. Bahkan tak menganggap apa yang mestinya dihormatinya. Laki-laki itu sahabatku. Pantang baginya dihina. Surut kata bukan pilihannya. Gelar Datuak pucuk dari kaumnya itu bukan sembaran. Ia minta berpisah saja. Tapi kadangkala hidup adalah problema. Semua sahabat-sahabat dan guru-guru memintanya untuk kembali. Membenarkan bidadari yang bersayap trauma. Gelap bisa menghampirinya jika abaikan. Ia hanya butuh bimbingan kata banyak temannya. Tapi ia kini tidak memperuntukan hatinya untuk anekdot cinta monyet. Ia ingin hatinya hanya untuk calon istrinya. Oleh karena itu tekadnya hanya untuk satu wanita yang sungguh-sungguh ingin menampung hati besarnya…

Mereka semua adalah sahabat-sahabat ku yang luar biasa yang dalam beberapa bulan ini membuat ku tersenyum dan kagum. Kalian adalah para pejuang hati. Hormatku….Semoga hati-hati itu akan kuat bersama kalian..Ingat sebagaimana pada bagian awal kukatakan. PErcaya kepada sebuah kekuatan yang luarbiasa yah Yang Maha Mengatur Segalanya. Bukankah suara Allah adalah suara hati/cinta? (Vox Dei Vox Luv…asal deh…hehe

OUT OF THE BOX

23 September 2009

Seorang kawan dikatakan pria out of the box. Dia bingung. Tak tahu maknanya apa. Hatinya sungguh tak terlalu gundah. Ia hanya bingung dgn tuntutan nasib dan takdir yang terlalu memilihnya. Seorang kakak yang baik hati mengirimkan sms kepadanya tentang cerita akan teman hatinya. Bunyinya, “Allah memilihkan untukmu dengan sabar, karena ketabahan mu luar biasa, untuk menyejukan matamu, meredakan amarahmu, yang tetap lekang di sisimu walau kamu kere.” Allah memilihnya dengan pertimbangan yg tak banyak diprotesnya.

Lalu seorang prajurit masa lalu memberinya beban cerita tak terperih. Sebuah misteri masa lalu. Sejarah kehidupan yang dikelamkan. Ia bingung kenapa dia dipilih. Begitu banyak pemuda. Begitu banyak cendekia. Begitu banyak keluarga lain. Kenapa dia yang terpilih. Bukankah ini bukan cerita “the special one” ?

Seorang dosen terpintar di kampusnya kemudian memintanya untuk berbaris bersama memajukan almamaternya. Sebuah mimpi masa lalu yang diharapkannya. Sebuah jalan yg ditempuhnya dari “batu-batu cadas” menyuarakan kebenaran. Dia sempat terbuang oleh kekuasaan. Tapi hatinya dikuatkan untuk tetap memajukan kampus yg berpikir aneh. Tak perlu diceritakan katanya betapa cinta hatinya akan kampus itu. Tapi Allah lah penentu sgala. Dia diam tertunduk. Menunggu takdir.

Kemudian seorang coba digapainya. Ia lupa betapa terlalu tingginya harapannya. Tapi sang dewi memberi ruang. Harapannya bersinar. Tapi kadangkala orang hanya singgah untuk menghibur hatinya yang lara. Mungkin terlalu pedih ia untuk dihampiri. Mungkin tak ada yang akan mampu menemaninya sepanjang jalan juangnya.

Tapi dia selalu kuatkan hati. Bahwa kehidupan adalah harapan. Jangan berhenti berharap karena itu kau hidup. Mungkin karna itu kau disebut out of the box kawan. Entahlah…

CATATAN PULANG, SEBUAH KETIMPANGAN PEMBANGUNAN

19 September 2009

Alhamdulillah di tengah beberapa cobaan selalu ada rahmat. Buktinya setelah kecelakaan dahsyat yang menimpaku dan hampir merenggut nyawa itu, ternyata Allah permudah caraku pulang kampung. Tiket murah pesawat tiba-tiba dapat. Etra memang lucky man.

Perjalanan pun dimulai. 10 tahun tidak melintasi perjalanan Jambi-muara Bungo. Biasanya aku lewat jalur Padang-Muara Bungo. Lama sekali rasanya tidak melewati jalur ini. Tapi selama perjalanan buku Rusli Amran yang dipinjamkan lUtfi yang kubaca menjadi tidak begitu menarik. tidak karena kajian itu sudah pernah kubaca dan Es Ito dalam Novelnya lebih teliti membukakan data, tetapi juga karena kondisi daerah-daerah yang kulewati selama perjalanan.

Sontak, buku tersebut ku tutup saja. Perasaan kondisi jalan dan daerah-daerah yang kulewati tidak jauh berbeda dengan 10 tahun yang lalu. tiba-tiba beberapa pria lewat tak berbaju, wanita2 dari tempat mandi hanya menggunakan handuk. Biasa sih kondisi kampung, tapi kondisi itu semestinya hanya sepeuluh tahun yang lalu. Mestinya pembangunan merubah beberapa aspek. minimal harusnya kulihat ada pustaka, atau gedung sekolah yang bagus. tapi sepanjang mata memandang hanya itu-itu saja dari dulu. Membuat ku geleng-geleng kepala.

Beberapa hutan malah semakin tandus. Ku ingat ada beberapa hutan sawit di pinggir jalan di sebuah daerah. Tapi sekarang sudah rata. Pohon-pohon tiada. Beberapa rumah dibangun di atasnya tetapi abai tak berpenghuni. karena kebetulan aku duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Aku bertanya, “Pak kapan nih tanah di sekitar sini didatakan, emang mau dibangun apa.” (aslinya sih dialog ini pakai bahasa minang hehe).
“Loh ini baru sekitar 2 bulan yang lalu, tapi di sita juga tuh, katanya bermasalah,” jawab pak supir yang sedang bekerja hehe.

Waduh. Hutan ditebang tanpa perencanaan dan pengurusn administrasi yang jelas. Begitulah akibatnya, ternyata pemodalnya bermasalah. Aku jamin ada yang tidak beres dari yang mengeluarkan izin. Minimal tidak melaksanakan SOP yang seharusnya dilakukan.

Pembangunan timpang di daerah. sementara Jakarta sesak dengan jurus developmentasi semu, utang yang disebarkan kepada kerongkongan kita yang konsumtif. Aku tidak anti pembangunan perkotaan tapi yah mbok rakyat desa yang juga menyumbang banyak untuk perputaraan uang di kota juga diberikan pembangunan nan layak tanpa sekedar merusak alam. Beberapa daerah kecil di Jambi, Bengkulu, Palembang, Padang sesungguhnya daerah penghasil kekayaan alam, semisal karet, sawit, batubara dll, tetapi pembangunan tetap hanya milik sebagian kecil elit. Sekolah ku yah dari dulu ya seperti itu juga. tetapi di dekat rumah ku lihat Rumah kayak orang-orang kaya di Bintaro atau di PI. Gila apa. Pustaka daerah di kampung ku masih mungil dan ini kepindahana tempat yang entah keberapa.

bagaimana anak desa bisa bersaing. Padahal George Soa, seorang anak dipedalaman Papua menerima penghargaan “One step to Nobel Prize”, sebuah penghargaan tertinggi bagi saintis muda dunia. Soa harus berjalan berkilo2 utk research di pustaka daerahnya yang juga tidak seberapa. Untuk otak pintarnya mampu mengalahkan kendala-kendala teknis. Saat ini ia dikuliahkan oleh Bakrie dari S1 – S3 di Amerika. Otaknya tentu akan “dibisniskan”.

Soa-Soa lain banyak di daerah pedalaman. Yang belum tergali bakatnya. “Intan” yang terpendam. Pemerintah pusat malah sibut menguras kekayaan Intan dan batu bara alam di kampungku. tapi lupa memberikan kontribusi kepada otak-otak anak negeri. Wajar saja anak kota semakin maju berpikir dan gaya hidupnya. anak-anak kampungku makin terperosok ke jurang yang namanya kebengalan.

jangan diam saja…bukankah penindasan harus dilawan…wiji thukul katakan hanya satu kata; Lawan. Nabi saja tidak membiarkan kedzaliman, masak ummatnya bersilantas tangan…tan malaka rela berjuang ke hutan-hutan, kota-kota bahkan antar negara ketika melihat pusat tak lagi ramah…kita dan saya hanya diam berpangku tangan…hampa nian…..

SEBUAH SMS DARI CELOK

2 September 2009

Kawan2 sperti biasa celok pasti SMS. Tentang agama, tentang pentingnya ibadah, tentang berjuang, tentang makanan apa di meja makan rumah ulu gadut saat itu, tentang apa saja pokoknya, selain gosip murahan.
Kemaren, sms datang lagi, tidak tentang agama sebagaimana memenuhi inbox HP ku dalam bulan ramadhan ini dan juga pasti kalian kawan2 dikirimkan juga, tentang makanan. PUSaKO berencana raker tahap 2 skaligus buka puasa bersama di Ulu gadut, kalian pasti juga dapat sms ini.
Tapi kemaren tubuhku lunglai, tak ada kekuatan. Sehari kemeren aku hanya mengoreksi beberapa tulisan. Setelah Isya di Kantor, pulang tubuhku benar-benar tumbang. Lemah sekali. Yance pasti kabari kalian tentang itu. lalu kalian sibuk menelepon menanyakan kondisi ku. Tapi tubuh lemahku butuh menyepi, sehingga aku ndak mau ditemani kawan2 malam itu. Cukup sebuah lagu communication by cardigans…
Mungkin datuak etra ada benarnya. Tubuh kampungku tak mampu hidup di hotel sekelas Hotel Indonesia Kempinski. Sama sperti yance. hahaha. Tapi jika itu benar lalu kenapa etra biasa2 saja, dia juga tidur di kempinski. Bukankah kami semua satu level. Kampung forever n ever haha.
Kembali ke sms celok, aku tak kuat balas, jd kubalas sederhana saja. Lalu dia membalas dgn sms ini:

“Ada sengau dlm tulisanmu..
Mungkin takkan tertebak oleh ku dik…
Bagiku deburan hidup yg kini mengelilingimu mestilah dlm rahasia sejati sang pencipta semesta…
bersenandunglah atas semua kasih sayangnya..
apapun bentuknya…
Kau tahu dik, bahkan saat kau di tetesi air hujan dan membuat mu mendekap selimut semalamam, tetaplah karena kau dicintaiNYA…
Beristirahatlah, bersujud dan berzikir…
apapun di balik langit sana yang dipersiapkan untukmu,
pastilah karena Dia telah memilihkan yang terbaik untuk mu…
Percayalah….”

Tiba-tiba sms ini membuat tubuh layuku berontak…bangkit…melawan kelemahan tubuhku…Aku mandi…mengerjakan tulisan untuk jurnal legislasi..15 halaman…pada 5 halaman di tengah malam tubuhku kontak tiba2 tumbang lalu hilang…aku lewatkan sahur malam ini…bangun subuh langsung persiapan berangkat “sekolah”.
Sms celok itu membuat aku sadar, kenapa Allah pilih dia mendampingi Mr. Saldi Isra. Bukankah disamping seorang lelaki terdapat seorang perempuan. di samping pejuang ada perempuan tabah. Tidak banyak permintaan, tersenyum dan menurut. Pintar dan bisa diajak diskusi. Editor handal tulisan-tulisan Saldi.

Terima kasih lok, hari ini aku di sms-kan, sebuah SMS dahsyat yang kembali membuatku tidak peduli dgn apapun tantangannya…bagaimana dgn kalian kawan2 ku….

BUKU DAN SEDEKAH
29 Agustus 2009
Hari ini ku umumkan utk kalian semua boi. Ada tempat jual buku murah di Blok-M square..di basement.
Bertemu seorang bapak, penjual buku, yang sibuk melafalkan ayat-ayat al-qur’an. Aku berjalan di tokonya, melihat-lihat. Tiba-tiba ia menyapa. Ia memberitahuku sebuah buku Soekarno. Judulnya kurahasiakan kepada kalian boi, karna pasti akan menjadi saingan, buku langka, termurah Rp.250.000,- dan termahal Rp.400.000,-, perbedaanya hanya di cover, isi sama.
“Aku kembali senin pak atau selasa,” kataku. Maklum saat itu gajian. Ia maklum dan mengangguk. Saat ku tawar buk Mac Iver, Negara Modern, ia meletakan harga terlalu tinggi. Padahal aku sudah ada bukunya di rumah, sayang tak ku bawa ke jakarta. Aku butuh buku tersebut untuk kepentingan buku pula.

Aku harus mengitari toko2 lain. cukup banyak. Memang selalu kesedian buku2 hukum n hukum tata negara yg berkualitas masih langka sekali. Tpai aku cari pasokan yang lain. Bertemu sebuah toko kecil yang dijaga seorang pemuda boi. Aku permisi untuk lihat-lihat. Aku tertarik satu buku. “Kuliah filsafat bang,” katanya. Rupanya ia memerhatikan. “Ah tidak saya kuliah hukum,” kataku singkat sambil tersenyum. Wah dia memberikan harga yang baik. Aku beli tiga buku dgn harga yang pasti membuat penulisnya marah besar..hahaha. Buku-buku ini akan membantu untuk banyak penulisan artikel atau sedikit memberikan nutrisi ke otakku yg sering tersendat…tiga buku..oh bahagianya…hati ini pun berlomba (walah lagu lama nan jadulnya haha).
Aku dan si pemuda penjaga kedai berkenalan. Ia bernama wahyudi (jika ingatanku tak berkhianat). “Kuliah hukum dimana,”katanya berbasabasi. Ketika aku bilang kuliah di andalas, dia langsung terkejut. “Walah jauhnya,” dia tertawa. Kami cerita-cerita. Rupanya ia tamatan sastra arab di UIN Syarif (Nah loh)..trus sempat ke Jerman juga belajar sastra Arab (loh kok ke Jerman sih). Ia menjelaskan beberapa buku adalah langsung ddari penerbit, makanya ia bisa membonsai harga semurah mungkin. Katanya harus dibuat rezim perlawanan terhadap Gramedia yang benar2 sudah jadi kapitalis buku-buku. Ia juga menjelaskan penerbitnya ketika masuk diminta memberi diskon 55% utk gramedia. Artinya gramedia akan mendapatkan untung super besar. Sialan kapitalis abis. Eh tiba-tiba dia menanyakan tentang kuliahku lagi. Aku tekakak, aku bilang sudah tamat. Dia mengangguk-angguk…simpulanku..tampangku ternyata masih muda lah wahahahaha.

Hari ini aku memutar toko-toko tersebut. Akhirnya empat buku terbeli. Padahal akhir bulan. Namun aku sudah pasang konsep. “Membeli buku bagai sedekah,” batinku. Ibarat sedekah maka setiap yang kita sedekahkan akan berpahala dan setiap pahala akan bercabang-cabang. Katanya sih 77 cabang dan disetiap cabangnya bercabang lagi. entahlah aku tidak begitu ingat ayat ini. Sedekah sendiri tidak dilakukan hanya ketika lapangkan (lagi kaya misalnya) tetapi juga ketika sempit.

Maka membeli buku pun ibarat sedekah. Tidak harus ketika lapang (banyak uang) tetapi ketika bokek sepeti saat ini. Hal itu juga akan menghasilkan cabang-cabang. Setiap buku setidaknya akan membantu untuk menuliskan sesuautu, bisa artikel atau bahkan buku yang lain. Bukan begitu boi?

Jakarta,29 Agustus 2009
FRA

KHOTBAH PROF. SODIKI: KESETIAAN SEORANG HAMBA DAN DOGGY
17 Juli 2009
Khotbah Yang Terhormat Hakim MK Prof. Ahmad Sodiki pada Jumat (17/6/09) di Masjid MK penting untuk di dalami. Beliau menceritakan sebuah hikmah yang menarik. Mengenai kesetian seekor anjing (aka. doggy). Menurut beliau cerita tersebut terjadi di Jepang.

Seorang tuan dan seekor doggy. Setiap hari sang tuan berangkat bekerja diiukuti oleh sang doggy. Namun setelah sampai di stasiun bawah tanah (subway) si doggy kemudian berhenti, tak ikut serta. Binatang tersebut lebih memilih menunggu tuannya di pintu keluar subway. Jika ia melihat tuannya pulang di antara ratusan kerumunan orang maka menyalaklah binatang tersebut tanda gembira. Rasa rindunya terpenuhi sudah. Peristiwa tersebut terjadi melewati dimensi waktu, hari demi hari, bulan demi bulan, dan tahun pun berganti tahun. Si Doggy setia menunggu. Tabah dan Sabar di pintu luar subway.

Suatu hari, sang tuan tak jua muncul. Namun si Doggy tetap tegar menunggu dan menunggu. Musim segera berganti si doggy tak beranjak. Ketika musim dingin datang menjemput hari, salju turun deras, tapi si doggy enggan beranjak. Tetap setia menunggu tuannya di antara badai yang mengila. Kesetian itu tak berbuah maniz, si tuan tak kunjung datang, si doggy pun merenggang nyawa dalam kesetiaannya. Usut punya usut ternyata penyebab tuan tak muncul karna kecelakaan yang menimpanya membuat ia telah lebih dulu meregang nyawa daripada peliharaannya. Atas kesetian itu, khotib menceritakan telah dibangun tugu tersebut untuk sang doggy atas kesetiannya kepada sang tuan.

Yang Terhormat Hakim Sodiki memaknai cerita tersebut. Seandainya, kata beliau, kita selalu rindu bertemu Tuan kita, Allah Swt, sebagaimana si doggy bersikap kepada tuannya, maka tentu Allah akan membalasnya lebih baik. Wah aku jadi ingat hadist yang menyatakan, kurang lebih, bahwa “Jika kau mendekati Allah sedepa, Allah akan mendekatimu sehasta, Jika kau mendekati Alalh berjalan, maka Allah mendekati mu dgn berlari.” Al-Quran said: “Allah lebih dekat dari nadi mu.”

Apa tentu bukan pemakna yang baik dalam hal ini. tapi bagi ku cerita ini perlu diambil hikmahnya. Sejauhmanakah kita setia kepada Agama kita. Waduh ampun deh kalau lihat perangai ku. BIsa si doggy masuk surga duluan tuh…malang tak terkira-kira…

semoga bisa di petik hikmahnya coi,,,

regard,
FRA

GUDEG JOGJA DAN KEDAULATAN TUHAN
15 Juli 2009
MEmang terasa ganjil jika ada anak Minang menyukai gudeg Yogyakarta. Beberapa kawan2 memang heran juga. Namun tentu opsi berupa hipotesa rakus bin lapeer juga berada di benak kawan-kawan ku. Tapi bagi ku bukan itu. Awalnya juga susah mencerna. Tapi karna tinggal di Yogya berapa bulan dan kawan2 kos terus ngajakin, akhirnya setelah dicoba, ah enak juga.

Hal yang sama mungkin ketika orang jawa mencoba masakan padang. Pedas dan akan segera mengirim mereka ke “belakang”. Awalnya ada permasalahan tapi tentu kemudian bisa diatasi. Akhirnya pada kecanduan. Akibatnya rumah makan padang bak cendawan. Hasilnya beberapa perantau jadi kaya karena bisnis tsb…alhamdulillah

Jadi pikir ku segala sesuatu itu memang kadangkala terlihat “akan” tidak menyenangkan. Namun setelah dicoba, dimengerti maka baru tahu betapa nikmatnya. Betul juga yah, sesuatu yang terlihat buruk bisa jadi baik, sesuatu yg baik bisa jadi buruk..zeh Al-Qur’an bgt wakaka

Hal lain yang ku pahami bahwa segala perbedaan itu (dalam hal ini masalah rasa) timbul karena faktor lingkungan. Orang yang selalu makan berbumbu dan pedas seperti orang minang akan kesulitan memakan makanan ala jawa. Tapi jika berani mencoba maka kesempatan utk menemukan kenikmatannya akan terbuka. Jika tidak jangan harap. Sibuklah dgn halusinasi pola pikir diri sendiri bahwa makanan tersebut tidak enak.

Herannya padahal lidah indonesia sesungguhnya sangat bertentangan dgn lidah orang barat. Tetapi kok ya mendadak orang (termasuk aku) banyak suka pizza, fried chicken, dll. Kuncinya mereka mencoba, dgn semangat gengsi supaya dianggap modern, maka itu selera barat tiba-tiba sesuai saja.

Sesungguhnya kawan ada kedaulatan Tuhan di balik rasa. tidakkah kalian tahu bahwa ada yang mengatur rasa. bagaimana mungkin makanan yg enak oleh suatukomonitas di lingkungan tertentu dianggap tidak enak oleh komonitas lainnya. Padahal menurut dokter struktur lidah alat perasa manusia di mana saja sama…oleh karena itu lidah tidak berdaulat..tuhanlah yang berdaulat….alah sok filosofis mah…makan c pangana….okay siang ini ke RRI..makan gudeg lagi hahaha,….demi kedaulatan Tuhan…(menjual nama Tuhan utk kenikmatan pribadi) semoga Allah ampuni…

PARA CAPRES GAGAL MASUK SURGA
10 Juli 2009
Alkisah…fulan bin fulan al-fulan bin fulan meninggal…kemudian singkat cerita ia antri dalam barisan akhirat untuk di timbang amal baik dan buruknya…memang ketika di dunia dia sudah tahu melalui hadist2 yg entah shohih entah bukan yg didengarnya dipengajian Syekh abdul fulan bin fulan al fulani. Bahwa menurut sang syekh akan ada antrian panjang ketika di padang mashar.

Namun yang dia tidak habis mengerti adalah…kenapa juga orang-orang yang berbaris di muka, di belakang, di kiri, dan di kanannya pada pake baju berwarna…nah ini jelas kagak ada di hadist nih…”apa daku ada di peradilan akhirat yg salah ya,” batin fulan…Anehnya setiap orang tuh memiliki 3 warna yang beragam…barisan paling banyak memakai warna biru, yang sedang warna merah, dan paling dikit tapi kelihatan “pede’ pakai baju kuning…

even though..kagak ada di hadist…si fulan penasaran juga atuh…sisi kemanusiannya muncul…sambil pura-pura malu…ia bertanya…”Ass…kaifa haluk..ana muslim antum muslim…because of that kite basaudara.” ucap fulan eskaesde…penggunaan empat bahasa itu bukan tanpa sebab, menurut ilmu sosiologi yg pernah ditempa fulan di dunia dulu, hal itu sangat efektif…logikanya semua orang skrang di surga tentu pade ngerti bahase arab…kalo kagak ngerti terpaksa menggunakan bahasa yg beken di dunia dulu yaitu bahasa Inggris…belum jg ngerti toh bahasa betawi kayaknya bakal membantu, soalnya dulu waktu di dunia..tu bahasa selalu digunakan oleh anak-anak yg mo di bilang gaul..kebetulan orang yg di sapa fulan dandanan rambutnya ala ST12 jadi kuat kemungkinan dia bisa bahasa betawi..tapi kalau belum juga minimal bahasa kawan2 di timur jadi harapan terakhir…soalnya orang timur itu penurut di suruh antri ya pasti antri…beda dgn org di pusat yg disuruh antri BLT malah dorong-dorong hehehe (bukan bermaksud sara)…

Untung saja makhluk yg di sapa memberikan signal tanda mengerti..lalu terjadilah dialog…
fulan; “bang maaf bang aye mau nanya nih, ini betul jalan akhirat gank shirotool mustaqim blok surga/negara II RW.II RT I..Yamuil mashar…Heaven?…”

penduduk mashar (PM): “ondeh waang…bahaso awak c lah…sok ke arab-araban, keinggris2an, ke betawi2an, n ketimur-timuran ang mah..padahal denai ko urang baraik…pakai bahaso awak c bia jaleh..iyo batua sanak ko alamaik nan sanak cari…manga tun batanyo.” (translate: waduh..pakai bahasa minang sajalah..jgn sok sprti orang arab, inggris, betawi, n timur..saya orang barat-sumatera barat maksudnya-biar ngerti, iya benar ini alamat yg dicari..kenapa bertanya?)

Sialan rupanya orang minang…maka pembicaraan sesungguhnya kemudian berlangsung dalam bahasa tersebut tetapi karena tulisan ini bilingual maka penulis langsung mengunduh versi bahasa indonesianya hanya utk anda para pembaca tercinta….hehehe

fulan: “maaf uda kalau betul ini akhirat kok uda pake baju..warna biru lagi..padahal setahu ambo Allah kan suka warna-warna sunah, putih atau hijau..ini malah biru…”

PM: “waduh kamu ini altelmi minal katrok deh, kita saat ini sedang baris untuk BLT dari kandidat capres no.2,”

fulan;”loh ini akhirat kan, mana ada BLT atuh uda, kok masih capres, pemilu kan udah lewat, dan jelas pemenangnya,”

PM1:”benar-benar fasikun wal bodoh kamu ini, BLT=Bantuan Langsung TUhan, yang dibagi-bagikan kandidat no.2, no1 dan 3 hnaya terbatas hari ini..cara ketik BLT <spasi> No.1/2/3 (tergantung pilihan) kemudian kirim ke 9898..setelah itu kamu akan diberikan kartu BLT utk masuk suraga..BLT itu sama dgn kartu mudah masuk surga. di akhirat ini capres-capres tetap menjadi imam kita, masuk surga or nerakanya kita yah tergantung ama mereka”

fulan mangut-mangut sok paham…tiba2 terdengar suara pengumuman yg datang entah dari mana…
“perhatian-perhatian..para pengunjung akhirat yg berbahagia, karena para kandidat sedang ada meeting bersama Tuhan, mohon di tunggu sebentar, tapi jangan khwatir capres pilihan anda tidak akan membuat anda menunggu n bosan, pengawal bagikan,” kata si suara..merdu juga…kayak suara front desknya gedung MK-RI manggil para driver..hehehe

Tiba-tiba beberapa orang dgn tiga warna kostum keluar dari pintu yg entah berada dimana (namanya jg akhirat pembaca semua serba ajaib), orang-orang berbaju warna biru membagi-bagikan berbungkus-bungkus mie instant..tak lupa menyanyikan jinggle pengirim..”Indomay Presiden koe,”

Tak mau kalah kampanye, para kampanye makers dari warna merah, juga membagi-bagikan motor..loh apa guna..”Mega-pro ini penting ketika sampai di titian shirot…bukankah lebih cepat lebih baik..”alasan si baju merah. Nah loh kok ngambil slogan warna kuning..wah bisa-bisa marah ini

Tapi pasukan kuning tenang-tenang saja. mereka membagi-bagikan kopor (tua bgt) dan travel bag (nah agak gaul dikit)…loh utk apa bawak travel bag…seorang petugas baju kuning kemudian menjelaskan..”Yang mau pulang kampung dan ngurus mushalla insyalalah terbantu,” katanya..nah loh ini kan akhirat..pulang kemana..ini the last village that never end…dasar bisa aja pasukan baju kuning ini…

Fulan senyum2 saja melihat para kampanye makers, ngak di dunia n ngak di akhirat kebiasaan menyogok rakyat ngak habis-habis…namun kemudian fulan tiba-tiba terhenyak..dia baru sadar kok dia satu-satunya yang berbaju putih…waduh…

Di tengah kegundahan fulan tiba-tiba terdengar teriakan menggelegar….
“Mohon berbaris yang antri sesuai dengan kostum dan di belakang nabi masing-masing (maksudnya para capres),”
Kontan saja pernyataan yang tidak lain tidak bukan dari makhluk bersyap dgn tampang sangar (malaikat akhirat kali ye) membuat fulan bergidik..dia mau baris dimana…
tiba-tiba seorang berkofayeh, gendut, berbaju biru dan bermimik lucu menghampiri fulan..sambil senyum-senyum…
“ah kamu pasti dulu golput ya…kan saya sudah anjurkan utk milih, sdh bs pake KTP kok tdk dimanfaatkan,” katanya..
tiba-tiba fulan teringat sosok penyelenggara pemilu..tapi kok berbaju biru..waduh…akhirat tak bisa berbohong rupanya hehehe
“iya nih pak fulanKAPEYOU, saya merasa ngak ada yg cocok, janji gombal semua, kalau milih merah kayak beli pisau lalu ditikami ke diri sendiri, masak milih penculik yg nyulik kita sendiri…kalau milih biru saya merasa berdosa ama penduduk lampindow pak, kuning apa lagi, dulu di caci-caci skrang kok di pilih, bisa2 sy di cap munafik ama Allah pak, tapi kok bapak pake baju biru yah, bapak kan smestinya netral”

“loh saya ini penyelenggara Pemilu, dari dulunya begitu, ngak memihak ngak asik,”katanya sambil berlalu
fulan cuma bs geleng-geleng kepala..

kemudian terdengar lagi pengumuman dari seorang malaikat;”peserta ke surga sekalian, berhubung Tuhan sudah memutuskan bahwa para capres anda sekalian tidak diperbolehkan masuk surga, maka sebagai nabi yg anda bela-bela dan dukung maka tiket anda masuk surga dgn sendirinya ikut dipending, karena ada sedikit sengketa Pemilu maka kepastian anda menunggu setelah sengketa itu usai”

Tiba-tiba suasana jadi heboh..suara-suara..suara..rame bgt…
Fulan penasaran ada apa gerangan..buru-buru dihampirinya seorang malaikat…
“misi om…ada apa yah..kok jadi seperti ini,”tanya fulan sopan…
“ops jgn panggil om gitu dong..panggil aku Jhoni..” kata si malaikat..wuih gaul bangett nih malaikat..demi secuil informasi terpaksa fulan nurut jua…

“oh iya Jhon (ngak enak banget yah nama malaikat jhon, sobri kek) emang ada apa yah kok Tuhan membatalkan rencananya memasukan para Capres ke surga,”

“oh it.. ya iyalah , gmana ngak Tuhan kesal trus semua di pending masuk surga, masak ketika Tuhan tawarkan siapa yang masuk pintu surga duluan, semua capres pada kagak ade yg ngalah,” kata si malaikat..waduh penyakit dunia sampai juga ke akhirat rupanya…Truz

“eh yg biru bilang..sama Tuhan lanjutkan…yang merah bilang waktu saya dulu jd penghuni surga saya tidak pernah no2 apalagi no3…yg kuning dengan nekatnya bilang ke TUhan biar saya saja toh lebih cepat lebih baik…terang saja pintu surga kagak muat..mereka berebutan masuknya ngak mau mengalah..jadi dengan kebijaksaanannya Tuhan kemudian memutuskan memending mereka masuk surga sekalian dgn para pengikutnya”

“loh kenapa dgn pengikutnya,mereka kan tidak ada pilihan lain, mereka tidak bersalah, merka hanya korban yg tipu dan dikibuli..please dong malaikat mereka cuma rakyat…”kata fulan berkaca-kaca…

“mmm kamu golput yah…”tanya simalaikat menyelidiki…”emang kenapa kagak milih,”lanjutnya si malaikat yg nama lengkapnya Al Jhon “the Angel” Reben (ada namanya di dada kiri bajunya) …

“Bukannya tidak mau, tapi takut salah pilih pemimpin yang menyengsarakan rakyat, belum ada yg terbukti benar-benar pro rakyat, semua hidup mewah dan kaya jadi..yah maaf..saya menunggu yg benar-benar hidupnya utk rakyat dan agama,”kata fulan berfilosofi…sok dalam…

malaikat Jhon tersentuh, kemudian bilang; “okay you masuk surga deh,”…

heheh segitunya…alah..mentang2 golput…
demikianlah hadirin pembaca….apakah anda masuk surga…atau dipendiiing…apalagi yg menunggu sengketa PHPU Pilpres…wakakak

AQUARIUM = UANG, DI BALIK PESTA BUKU JAKARTA
28 Juni 2009
Ini cerita persiapan membuat acara seminar “Menyongsong Era Baru Pengadilan Tipikor”. Persiapan sudah 75%. Harus buru-buru besok harus selesai semua. Waktu selalu berlalu dengan cepat dan tergesa-gesa, sayang sekre dalam tahap rehap sehingga persiapan menjadi tidak begitu maksimal, tapi semua harus diusahakan bukan.

Setelah persiapan okay, kami berjalan-jalan, kemana lagi kalau bukan ke Pesta Buku Jakarta, tempat para penggila buku, sok penggila buku (aku di antaranya), penggila para penggila buku, dan yang tergila pada buku-buku tapi enggan membelinya (alias numpang baca gratisan-dan ini untung bukan aku). Sebenarnya banyak kriteria lain yang ku temukan di sana. Misalnya, pembuat buku gila yang juga asli gila, Si Raditya, pengarang buku konyol “Kambing Jantan” contohnya. Dia hadir bertemu para fansnya. Dan beberapa teman suka juga ama dia. Aku sih belum baca buku “Kambing Jantan”, tapi kata kawan2 pencinta buku sih lucu, adik ku juga bilang lucu dan penampilannya si Raditya dan Dio, kawannya, juga lucu habis, tapi yah, aku dan kawan-kawan lebih suka makan, jadi kami pilih makan dari pada tertawa terpingkal-pingkal dengan perut lapar.

Ada hal lain yang perlu diceritakan. Sebagai seorang yang sok mencintai buku, maka aku dan kawan2 memborong pelbagai jenis buku. Ya Allah kalau bukan di akhir bulan, maka aku akan rela membeli buku-buku murah ini tanpa pakai pikir-pikir panjang. Namun sayang, adik ku mau ujian, setidaknya harus ada dana cadangan, kalau tidak tidak perlu dipikirkan pasti tak hajar, seperti ketika kami2 berburu buku di Yogja, hampir saja tidak bisa pulang, gara2 “tekor” beli buku…

Membeli buku di tempat seperti Pesta Buku Jakarta ini ibarat haus ditengah aquarium besar. KIta sangat ingin minum, tapi tidak bisa. Dipaksakan dipecahkan kaca pembatasnya, hanya akan membuat kita tenggelam, mampus. Jadi lebih baik keluar aquarium, lalu teriak, “bang aquanya satu bang”, dan masalah selesai.

Maksud ku,

Kalau uang cekak, dan memiliki hasrat besar untuk beli buku, maka jika dipaksakan juga, maka umur mu hanya tinggal hitungan hari saja, jadi lebih baik keluar selesaikan, dan tunggu bulan baru. Intinya bung pekerjaan sabar akan lebih ada nilainya bukan. Jadi sabar saja, kataNYA sih, “sabar dan tingkatkan lagi kesabaran mu.”

Oh ya karena di awal note ini sudah menyatakan tema catatan ini adalah persiapan seminar Ikatan Keluarga Alumni, mari kita kembali ke pokok persoalan., jangan lupa hadir ya semua di tanggal 3 Juli 2009, Hotel Grand Sahid, Jln. Sudirman, Jakpus…mantaf, setelah itu kita ke Pesta Buku Jakarta lagi bareng-bareng, kan bulan baru wakakakakakakak

DARI EVERLASTIN MENUJU FILSAFAT, MENUJU ALLAH DAN DIA…
19 Juni 2009
Ada hikmah yang menarik, menurut ku, sekali lagi menurut ku ya, ketika mendapatkan hadiah bunga everlasting yang dibawa Yance Arizona dari filipina (selain choklat yang alangkah dahsyat itu).
Bunga everlassting, sebagaimana nasehat kawan kita Yance diletakan di tempat kering. Hebatnya dalam beberapa hari ini, ketika ku perhatikan bunga itu mulai mekar. Indah juga kawan, terima kasih.

Aku jadi terpikirkan sesuatu. Bunga selalu identik dengan air. Sebagaimana kalau aku pulang kampung, maka bundo selalu mintak tolong untuk ku siramkan bunganya (kadang jadi ragu juga mana yg lebih disayang, bunga or anak bujangnya, laki2 di suruh siram bunga..tuing..pantas tak laku2 hahaha-curhat). Bunga dan kebutuhannya akan air, kalau diibaratkan seperti internet dan facebook. Setiap bukak internet maka facebook pastilah menyertai.
Ada teori bahwa air adalah kunci kehidupan, tempat asal mula makhluk hidup. Tanpa air tak ada kehidupan. Tapi bunga everlasting yance membantahnya. Tergantung di dinding kamar ku, tanpa air dan akar layaknya bunga-bunga yang lain, ia mekar dan bersemi indah.
Dengan bunga ini terbantahkanlah teori bahwa segala sesuatunya bergantung kepada air. Air bukanlah segalanya. Ada zat lain yang menentukan. Nah ini hikmah pertama. Allah khalik, Allah mantaf bgt, Allah hebring nian.

Selain itu, pikiranku berpikir, siapakah bunga itu yang mampu hidup tanpa air kekayaan, tanpa akar kemewahan yang akan menggantung di dinding hati…acuiiih…wuakkk..kok jadi ke sini…alah dasar…apakah dia…dia…yang onoh…yang entun..nan di sinan…yang di sana…yah tak tahulah…Semoga mampu menjadi everlasting…

Cuman pemikiran iseng menunggu putusan hakim…wuuuuahhhh

ANAK KAMPUNG
15 Juni 2009
Tan Malaka adalah anak kampung di suliki, Payakumbuh, Sumatera Barat, begitu juga Syahrir, Buya Hamka, Agus Salim, Moh. Yamin. Saldi Isra dan Gamawan Fauzi juga anak desa di daerah Solok, Sumatera Barat. Es Ito, penulis Negara Kelima juga anak desa, anak seorang petani.

Jadi menurut ku anak kampung pun bisa bisa berprestasi, bahkan lebih daripada makhluk yang namanya anak kota. Yang kerjanya cuma bisa memandang otak orang dari penampilan. Yang kerjanya mendomplang uang saku dari orang tua. Bangga dengan mobil bapaknya. Yang ibunya cuma bisa arisan. Yang jijik liat saudara senegaranya sendiri yang miskin. Yang selalu pura-pura dekat kepada rakyat ketika kampanye. Orang kota tak lebih dari makhluk sosial paling parah dalam hidup dan berkehidupan. Tapi ada juga orang kota yang baik, biasanya yang menyadari asal-usulnya.

Aku terkejut juga ada anak yang tidak bangga dengan asal-usulnya. Ingin dianggap terlihat kota. Sibuk ber “lu” dan ber “gua” supaya dikira orang Jakarta, anak kota, maju, tidak kampungan. Ada juga saudara ku yang seperti itu. Terang sedihnya bukan main. Bukan tidak paham, namun hubungan sosial tidak harus merubah “rupa”, kita tidak perlu merasa dianggap dengan merubah jati diri. Sebagai anak kampung, jujur aku bangga dengan ke kampungan ku. Karena dari situlah semua asal usul wujud. Ibarat sungai, disanalah hulu yang kemudian ke hilir.

Perspektif orang memang berbeda. Ini bukan aku berarti anti dengan anak-anak yang sok kekota-kotaan atau anak kota. Bagi ku itu adalah hal lumrah, bagi orang-orang yang ingin mencoba merasa dan ingin dianggap maju, moderat, lebih dari yang lain. Tapi jangan sampai asal-usul tempat kita semua bermula, tempat tampat pendahulu-pendahulu, kakek dan buyut kita, menjadi tempat yang dianggap hina. Banggalah jadi anak desa, anak tempat segala harapan bermula.

Wahai para pemuka adat alam minang kabau dan niniak mamak sekalian…pertahankanlah adat dan budaya, jangan biarkan anak kemanakan, orang kampuang malu dan lupa kepada asal negeri.

BERBEDA PENDAPAT
19 Februari 2009
Nah ini perlu pula diceritakan di FB ini. Perkara yang mungkin sulit diterapkan siapa saja, termasuk penulis.
Sederhananya berbeda pendapat adalah berbenturannya dua atau lebih pendapat terhadap suatu hal atau permasalahan.
Memahami pendapat yang berbeda dengan apa yang kita pahami memang bukanlah semata pekerjaan otak. Menurut saya dalam hal ini yang sangat ‘berkompenten’ adalah kinerja hati.
Beberapa hari ini penulis mengalami intensitas perbedaan pendapat yang sangat besar sekali. Mulai dari perkara diri pribadi hingga yang berkaitan dengan persoalan kerakyatan (aduh bahasanya boi-berat banget). Lucunya orang berpendidikan tinggi, menurut pengalaman saya, ternyata dalam berbeda pendapat lebih ego dan bahkan cenderung otoriter. Orang yang berpendidikan ala kadarnya malah lebih legowo.
Jadi menurut saya lagi semakin tinggi ilmu, jabatan, umur (apalagi ketiganya terangkai menjadi satu), maka semakin parahlah ketidakmampuan seseorang itu dalam berbeda pendapat.
Ini bukan rahasia, coba perhatikan ketika kita berbeda pendapat.
jika berhasil meruntuhkan pendapat orang lain atau bahkan menjatuhkannya, maka biasanya kita begitu menikmatinya..jahat sekali..betul..betullll parah..
jadi memang lebih baik menurut saya, dalam beberapa hari ini, perbedaan pendapat sebaiknya dihindari saja. Capek berdebat yang dapat juga dosa n musuh dimana-mana.
Tapi susahnya membiarkan penguasa zalim terus mengeluarkan pendapat atau kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
Dibiarkan atau cuma berdoa jelas perbuatan “biadab”, oleh karenanya memang harus diperdebatkan bahkan diperjuangkan…Oleh karenanya kesimpulan kedua saya adalah perbedaan pendapat sah-sah saja karena adalah tidak mungkin menyeragamkan apa yang ada dipikirkan kita dengan isi benak orang lain…ya ngak boi..hehehe

2 Responses to “Catatan Lepas”

  1. put Says:

    buat yang cerita pertama,
    anda mengatakan bahwa kedzaliman itu identik dengan orang yang sedang berkuasa
    pernakah terpikir oleh anda,
    bagaimana anda berada disuatu posisi atas dalam kekuasaan?
    apakah anda bisa menjaga diri anda dari kedzaliman seperti keadaan orang2 yang berada diatas itu?

    who knows?

    1. feriamsari Says:

      Itu sebabnya lebih baik menjadi orang yang merdeka dan memerdekakan orang lain🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s