dscn5851

BAB I

Awal Perjalanan Tiada Akhir

 

8 September 2008, pukul 22.44 WIB adalah tanda pengenal kapan dimulainya catatan perjalanan hidup ini dituliskan dengan ditemani lagu Snow Patrol dari original sound track Spiderman 3. Aku tidak menafikkan kemungkinan hal ini sangat besar pengaruh Madilog-nya Raja pergerakan Indonesia Tan Malaka, Catatan hariannya Soe Hok Gie atau bahkan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Namun sebagaimana layaknya sebuah catatan perjalanan anak manusia, maka ceritanya tidak akan bisa sama.

***

9 tahun yang lalu, seperempat kisah perjuangan hidup ini dimulai. Aku terlambat hari pertama Ospek (orientasi pengenalan kampus), bayangkan dikala semua makhluk mahasiswa/wi baru lain terpontang-panting bangun pagi dan bergegas ke kampus agar tidak terlambat sedetik pun jua dihadapan para dewa/dewi yang bernama senior itulah Aku telat. Seribu persen bulatnya keyakinan ku bahwa pasti tindakan indisipliner ini akan mendapatkan ‘hadiah’ menarik dari para senior.

Pukul telah menunjukan jam 9.00 WIB pagi dan pasukan mahasiwa/wi lain telah berbaris rapi di halaman sepak bola Universitas Tertua di luar pulau Jawa ini. Aku coba berlari-lari kecil, pura-pura tergesa-gesa, seolah-olah terlambat bukanlah kehendak ku. Sesungguhnya memang tidak, Aku bangun pagi dan telah berkemas-kemas dengan perangkat bodoh kostum-kostum mahasiswa baru dari semalam. Tapi dikarenakan baru menginjakkan kaki di tanah Minang maka tersesat naik bus ke kampus adalah sebuah fakta sejarah yang harus ku ukir indah. Sebuah fakta yang memberikan pencerahan dari sebuah penderitaan.

Tiba-tiba sebuah hardikan mengelegar.

“Hey…terlambat yo..sini”.

Aku terkejut juga walau telah mempersiapkan diri setelah menyadari bahwa Aku pasti telat habis ketika dalam perjalanan naik bus.

“Ya Bang” kata ku.

“Apa sebab membuat mu terlambat” kata sang senior membesar-besarkan matanya, menakut-nakuti ku.

Aku pada dasarnya tenang-tenang saja, tapi nafasnya yang naik turun karena ingin menunjukkan bahwa dia marah menyebabkan hidungnya membesar dan membuat bulu-bulu di hidungnya keluar masuk. Adiiih jijiknya.

“Maaf Bang, ambo<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> tadi tersesat naik bus” kata ku sesopan mungkin plus ditambah senyuman butut ku yang luar biasa walah-dalah.

“Alah alasan waang se<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–>, berdiri di sana, hormat kepada bendera” katanya sambil mendorong ku, memaksa agar Aku segera bertindak sesuai perintahnya.

Sekejap kemudian aku sudah berdiri dihadapan Sang Saka Merah Putih, bendera bangsa yang bermakna berani lagi suci. Tiang bendera tersebut berada di bundaran yang memisahkan gedung rektorat dan lapangan sepak bola tempat kawan-kawan sependeritaan ku berbaris. Si senior menempatkan ku di bagian tiang bendera membelakangi gedung rektorat. Akibatnya aku menghormati bendera dengan posisi badan menghadap pula kepada rekan-rekan ku di lapangan sepak bola. Suatu saat ketika hukuman hormat bendera ini ku ceritakan kepada sahabat-sahabat dekat ku maka mereka semua tertawa karena baru mengetahui bahwa mahasiswa yang terlihat bodoh di awal perploncoan itu adalah sahabat mereka sendiri. Sungguh teganya, bukan berbelas-kasih malah tertawa.

Cukup lama juga Aku hormat bendera sambil memperhatikan apa yang dilakukan teman-teman ku di lapangan. ‘Penderitaan revolusioner’ tersebut baru berakhir ketika seorang senior, pria maskulin (istilah terbaru yang ku dengar adalah metro-sexual) mendatangi ku dan kemudian bertanya.

“dari mana, Fakultas Hukum ya” Katanya. Ia mengetahui Aku dari Fakultas Hukum pasti karena baju putih dan celana putih yang ku gunakan. “Kenapa kamu dihukum, apa salah mu” tanyanya beruntun.

“saya terlambat da” jawab saya dipadu dengan sedikit ekspresi menyesal yang mendalam.

“sudah, masuk barisan Fakultas Hukum sana, tunggu sebentar kita minta ijin dulu” perintahnya sambil menepuk pundak ku.

Kemudian ia melangkah ke beberapa senior di sana dan membisikkan sesuatu. Para senior di sekitarnya manggut-manggut sambil tersenyum kecut. Sang senior metro-sexual tersebut memberikan kode kepada ku untuk segera mengakhiri penderitaan kebangsaan dihadapan sang merah putih. Aku tersenyum, kemudian memberi anggukan hormat, sang senior hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Tanpa membuat waktu aku langsung lari menuju barisan fakultas hukum. Seorang senior berbaju almamater memeberikan kode melalui jarinya meminta ku memutar jalan melalui belakang barisan. Dengan kesigapan tingkat tinggi ‘ilmu meringankan tubuh’ yang ku dapat dari membaca buku Wiro Sableng<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–>, maka dengan sekelebat mata, tubuh ku segera memutar menuju belakang barisan. Langkah ku semakin cepat ketika suara-suara senior meneriakkan agar aku ligat.

Tiba-tiba seorang senior meneriakkan berhenti. Dia menunjukku, menanyakan mau kemana.

“mau kebarisan Fakultas Hukum da” jawab ku. “diperintah senior barusan da” alas ku supaya dibebaskan dari kemungkinan bakal dihukum lagi.

“Ooo, jadi awak anak Fakultas Hukum, sudah pernah dihukum belum !” hardiknya.

“siap belum da” kata ku kaget.

“oisss, siap da, tentara awak, anak militer awak, anak jenderal, belagak awak di sini, mentang-mentang anak tentara ha !” hardiknya semakin keras. Para mahasiswa yang membelakangi ku menghadap ke tiang bendera bundaran auditorium mulai menoleh dan tertawa kecil-kecil, sialan batinku, ku lihat dari seragamnya mereka bukanlah dari Fakultas Hukum.

“Indak da, ambo bukan dari anak militer da” jawab ku

“Ooo jadi awak pakai siap da-siap da tadi tu cuman untuk belagak seperti militer, biar ambo takut” katanya menghakimi ku

Sialan, dalam batin ku, terjebak dalam kata-kata. Dia memanfaatkan setiap perkataan ku sebagai senjata untuk menyerang. Suatu saat bagian ini memberi ku pelajaran bahwa sebagai orang hukum penggunaan segala kata harus dipikirkan kalau tidak ingin mati loyo seperti saat ini.

“maaf da, bukan maksud ambo da” jawab ku sebisa mungkin.

“Ok lah, angku<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> beri ambo push-up seribu kali dulu” katanya menunjuk ke tanah memerintahkan ku segera melaksanakan sedikit olah raga beban tersebut.

Dengan hati terpaksa, muka dibuat bahagia, aku melaksanakan perintahnya, cuman push-up seribu kali manusia mana yang sanggup melakukannya, edaaaan. Pada hitungan ke 15 persendian ku mulai ‘menjerit’, pakaian ku yang putih bersih mulai terkena genangan lumpur hujan semalam yang masih terendap di dalam lapangan ini.

“sudah letih awak, belum 30 sudah ngos-ngosan, pakai gaya siap da-siap da, makonyo jangan sok militer awak” katanya mengejek ku.

“iyooo da” nafas ku sengal seperti memohon hentikan segera tindakan ini, namun hanya sebatas itu lidah ku berani berargumentasi.

“sudah berhenti” katanya

Aku riang sekali langsung berdiri. Lepas satu lagi penderitaan di hari ini.

“eeeh, siapa suruh awak berdiri, lekas kembali ke posisi push-up” teriaknya sambil berkacak pinggang.

Alah maaak, dalam hati ku, apalagi ini, Tuhan selamatkan hamba-Mu yang teraniaya ini. Hati ku tiba-tiba menjadi sendu seperti para penyanyi dangdut Indonesia yang memadukan kesedihan ala lagu India dengan padanan gaya gerak tubuh orang Melayu, menyedihkan.

“maaf da” kata ku sambil kembali melakukan push-up.

“ambo katakan selesai di posisi tadi” hardiknya memerintahkan aku berhenti di posisi badan dekat ke tanah.

“nah tahan pada posisi itu, tahannn…tahannnnn. terus tahannnn….” katanya dengan nada kenikmatan melihat ku tersiksa.

Posisi tersebut memang posisi terberat ketika sedang push-up. Keringatpun mengalir deras, makiannya semakin buas akupun mulai tak kuasa menahan beban.

“ok sana pergilah sudah bosan awak melihat mungka angku” katanya ketus.

“alhamdulillah” selamat batin ku berucap. Aku tancap gas sambil mengangguk dan ucapkan terima kasih.

Terima kasih, sungguh bangsa yang santun. Aku tak heran kenapa bangsa ini bisa dijajah berabad-abad jika tabiat pemudanya di zaman itu seperti aku. Berucap terima kasih ketika seseorang menyiksa kita, sungguh memalukan sumpah ku dalam hati. Tapi apa lacur ini semua karena sistem ospek yang memberikan ‘singasana’ tertinggi kepada sebuah kelompok yang bernama senior tanpa ssitem pertanggungjawaban yang jelas. Ingat;

Pasal Satu (1); “senior selalu benar”. Pasal 2 (dua): “jika senior salah maka kembali ke pasal satu”.

Aturan yang payah sekali. Satu saat setelah beberapa tahun kuliah di fakultas hukum aku baru tahu sebuah idiom yang tepat menggambarkan ‘kejahatan’ Ospek. Adagium hukum yang dipopulerkan oleh Lord Acton, pemikir kenamaan dari Inggris bahwa menurutnya; power tends to corrupt, absolute power corrupt absolutely.

Menurut ku jika budaya penjajahan di ranah intelektual ini tidak segera dihapuskan, maka setidaknya senior memberikan pelajaran diakhir perploncoan bahwa penjajahan, kesewenang-wenangan tanpa batas akan menyebabkan penderitaan. Misalnya ada senior yang berkata;

“Beberapa hari Ospek telah kalian rasakan, dan begitu menderitanya, tanpa belas kasihan dari sumpah serapah sampai penanganan secara fisik. Nah kakak akan memberikan nilai-nilai filosofis di dalamnya. Penderitaan yang kalian rasakan belum sebanding dengan penderitaan rakyat kita. Mereka tidak diberi makan ketika ditindas penentu kebijakan seperti kalian yang masih dapat jatah makan siang setiap ospek. Jadi adinda-adinda ku sekalian, maka setelah merasakan penderitaan itu, maka berjuanglah, bangkitalah melawan penjajahan, melawan kesemena-menaan, kebiadapan. Mari atas nama penderitaan yang telah kalian rasakan kita bersumpah untuk membela rakyat kita yang tertindas”.

Nah begitu, tapi jangan harap itu terjadi, para senior cuma bisa petantang-petenteng, setelah meng-ospek langsung pulang seperti pejuang baru menang perang. Lagu dan dagunya kemana-mana, sombong habis kayak orang tajir ngak bakal miskin. Pikiran itu segera sirna karena aku harus segera berbaris bersama kawan-kawan fakulta hukum lain.

Tiba-tiba, seorang senior berbadan besar, tinggi dan hitam dengan tatapan wibawa melihat ke arah ku. Kemudian dia berjalan menuju ke barisan ku, aku pura-pura tidak tahu, masa bodoh, walau dalam hati aku mengutuk-ngutuk apalagi yang akan terjadi. Ya Allah selamatkan insan yang terkungkung kediktaoran ini, segera, segera mohon ku. Aku tiba-tiba berkhayal seandainya bapak rektor dengan pengeras suara tiba-tiba memanggil nama ku sebagai peserta tertelat of the year, atau apalah, mohonku.

Tapi tidak saudara-saudara, ia menghampiri ku dan dengan tatapan mata garang ia menatap ku;

“kenapa baju awak coklat begini” katanya dengan tenang

Walah dalah ternyata dia baik juga.

“tadi ada senior yang suruh push up da” kata ku.

Ketika dia bertanya senior yang mana, aku bingung karena ketika ku melihat posisi senior yang menyuruh ku push up dia sudah raib, hilang tanpa bekas. Aku hanya bisa menunjuk ke tempat kosong. Tiba-tiab dia kemudian menarik tangan ku.

“ikut ambo” katanya. Aku terseret-seret. Tidak tahu kemana aku akan dibawa. Hati ku ciut juga. Jangan-jangan aku bakal dihadapkan ke senior tukang push up tadi, bisa berabe jika mereka satu komplotan. Tololnya aku manalah ada senior yang tidak kompak. Aduh.

Tapi aku dibawanya melintasi lapangan sepak bola ini menuju gedung besar yang disebut auditorium. Di sebuah ruangan yang dipintu masuknya tertulis “Panitia Orientasi Mahasiswa Baru Universitas Andalas” aku diseretnya. Masuk ke ruangan itu aku gagap wajah-wajah tidak muda lagi ku temui, pasti mereka dosen atau pegawai universitas. Tiba-tiba.

“braak”

Meja disamping ku berdiri dipukuli sebuah tangan besar dengan garang. Aku gemetar, meja itu seolah-olah bergoyang tak kuasa. Aku linglung.

“lihat ini pak ada senior yang membuat adik asuh saya seperti ini, kalau ada yang main keras jangan seperti ini, jangan di belakang saya” katanya marah besar.

Semua yang ada di dalam ruangan diam senyap, tak ada suara, hening, namun tak lama hanya beberapa detik tapi sudah cukup membuat roh ku melayang-layang.

“ada apa ferdi” seorang pria bersuara, melangkah menuju kami, kepalanya agak plontos tapi belum botak benar.

Ia memegang pundak senior ku yang dipanggilnya Ferdi, akrab sekali, suasana menegangkan tiba-tiba buyar. Aku menarik nafas lega.

“ini pak junior ambo diperlakukan seperti ini, baju putihnya berubah jadi coklat, kurang ajar benar, anak fakultas hukum tanggung jawab ambo dan kawan-kawan pak, di luar itu jangan ada yang coba-coba pak” kata Ferdi tegas.

“ok..ok ambo mengerti tapi kan angku harus paham bahwa kita ndak bisa mengawasi banyak hal, sudahlah angku bawak junior mu ke fakultas nanti kita cari biang keladinya” katanya tenang sambil menepuk-nepuk pundak Ferdi.

Wah hebring juga ni bapak dengan mudah ia menaklukkan emosi Ferdi. Aku jadi salut dengan caranya yang tenang membuat ku ingin tau siapa ni orang.

“ok pak ambo tidak ingin buat keributan tapi jangan coba-coba ini tidak ditindak, makasih pak” kata Ferdi tetap tegas tanpa menghilangkan sedikitpun wajah dinginnya.

Kami berbalik berjalan. Ferdi memegang pundak ku. Ia berbisik.

Zainul Daulay, pembantu dekan (PD) III fakultas kita” katanya.

Ha..batinku, baru kuliah dan sudah berurusan dengan PD III, tamatlah karir ini. Aku tertunduk-tunduk cemas membayangkan tangis orang tua di rumah jika aku di DO. Apa sejauh itu, aku kan korban.

“kenapa awak diam, awak takut?” Ferdi menegurku, tenang sekali seperti tidak ada masalah.

“ambo takut da, jangan sampai ini jadi masalah besar” ucap ku khawatir.

“eh angku tu tidak salah, kenapa takut, gimana angku ini anak hukum tidak takut tapi melawan yang salah” katanya lagi-lagi dengan tegas.

Aku diam mengangguk. Aku tau senior satu ini beda, ada tatapan kepemimpinan di matanya yang membuat banyak orang yang melihat tertunduk segan. Bukan karena tampangnya yang garang tapi ada keberanian di dalam jiwanya yang menyeruak di air mukannya.

Aku benar-benar mendapat pelajaran hari ini, bagaimana bersikap menghadapi yang salah. Bukan mundur kawan tapi maju berhadapan dengan puncak kekuasaan. Aku meliriknya sekilas, tanpa sadar aku tersenyum. Ada harapan kuliah menjadi sesuatu yang beda dari sekolah. Aku melihat hikmah ketika baru saja masuk kuliah.

 

 

 

 

 

 

 

 

<!–[if !supportFootnotes]–>[1]<!–[endif]–> Adalah kata santun dalam adab Minangkabau yang berarti saya.

<!–[if !supportFootnotes]–>[2]<!–[endif]–> Waang se bermakna ; kamu saja. Waang se adalah kata yang sering digunakan kepada orang sangat dekat/sahabat dalam adab Minang namun akan terdengar sangat kasar apabila digunakan kepada orang yang baru dikenal atau sedang marah.

<!–[if !supportFootnotes]–>[3]<!–[endif]–> Kisah Pendekar 212 Wiro Sableng adalah novel laris di masa-masa aku SMP sampai SMA, karya Bastian Tito.

<!–[if !supportFootnotes]–>[4]<!–[endif]–> Angku sesungguhnya bermakna kakek, tapi dalam bahasa pergaulan di Minang hal itu sering pula dipergunakan untuk memanggil seseorang yang berusia lebih muda atau sejawat.

4 Responses to “Wandarer”

  1. Mr donal Says:

    ondeh malangnyo nasib uda ko lai, pantas se katiko ospek udako paliang ganas… hehehehe


  2. Huahahaha… Go Ahead bro, I want to hear about Mr. YIM when a senior tell to you that he is our alumna. I think that is the main powerful story, don’t you?

    My friend when I swimm in my dream… Heheh e

  3. Rozalia Prima Says:

    Awal yang lucu sekaligus mengesankan pak….

    1. feriamsari Says:

      makasih roza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s