Mimpi

Aku pemimpi, maka tugasku adalah bermimpi…

Indah dan suram mimpiku tetap kuhadapi….

Darah dan dahaga adalah lumrah dalam perjuangan…

Airmata dan penantian adalah penghiasnya…

Aku pulang….

Hari ini sebuah mimpi coba diwujudkan…

Aku berdoa….semoga Allah yang Maha Rahman dan Maha Rahim…memilihku utk tugas ini…

Ahhhh aku sudah terjaga…mari wujudkan…berjuang…

Sejarah

Sejarah kelam masa lalu itu kini menghampiriku…menuntut darah juangku..sebagai pewaris tunggal masa lalu….

aku beku…diam…berpikir menjadi begitu kelam…

sejarah masih membingungkan di negeri ini…

LEbaran

Memelas di lebaran ini…dosa tak habis…khilaf tak surut….takbir memantul-mantul…kapan bisa pulang ke hati-Mu…sambil menangis dan tersenyum…

Tertunduk pada hari raya kali ini…sebagaimana jua dgn hari raya-hari raya sebelumnya…ampun ya Rabb setiap saat ku masih berbuat khilaf…bahkan ketika memohon ampunan-Mu….

Utk

Sejuk benar engkau hari ini…

Seperti hari-hari biasa di bulan-bulan lalu…

Tapi kau ingkar janji tuk menerima sebuah pemberian ku…

Sebuah Roman Zainuddin dan Hayati…

Aku diam terpaku di ruang tunggu…

Kau terus pura-pura tidak tahu…

Membisu dalam ruang mu itu…

Padahal kita sudah berjanji agar aku memberimu Hikayat anak rantau pedih hatinya itu…

Mungkin itu kisahku atau pula kisahmu…

Dan mungkin pula bukan kisah kita sama sekali…

Tapi Novel itu tentang setia…sebuah harapan segala doa…

Apakah kau tidak berkenaan dengan sikapku…

Entah aku tak tahu…

Novel Buya itu untukmu…Janjiku…

(Jakarta, 14 September 2009)

Orang miskin berak di kali

Orang miskin berak di kali

sejurus kemudian aku maki-maki republik ini

orang miskin mati di pasar

aku kutuki pemimpin yg lupa diri

pengemis bingung mencari nasi

di ranjang sampah presiden kita bergudang-gudang makanan bekas resepsi

penganggur bunuh diri

anak menteri mudah cari rezki

aku tak tahu harus bicara apa lagi

pemimpin lupa diri

rakyat sepertiku hanya bisa memaki

perut kosong belum terisi

hampa nian hidup ini

ooooo tuan-tuan tanah di atas sana

sudah lupakah tuan keringat kami yang tuan peras

ibu-ibu kami tuan paksa bangun pagi

anak negeri tuan beri julukan bodoh dan pemalas

sedangkan tuan sibuk ongkang-ongkang kaki

kemana lagi aku pergi mencari sesuap rasa hati

padahal teman sejati tak kutemui

sendiri memperjuangkan hal-hal yang tak pasti

untuk sebuah harapan dalam hati

rasa cinta kepada ibu pertiwi…

orang miskin masih berak di kali…

(Jakarta, 1/09/09)

Bodoh

Sudah dari dulu aku sadar…aku bodoh dalam hal ini..

tapi masih juga ku telusuri harapan-harapan kosong…

bukankah chairil sudah katakan; tak sepadan…

persetan kataku kemudian…

tapi hanya dengan menghitung lembab di dinding..tak lama..

aku baru tahu betapa ampuh chairil…

bodoh…keledai pun tak segitunya…

hati menutupi pikiran…

rasa mengalabui kebenaran…

fakta adalah segalanya….

begitu juga apa yang ku ungkapkan padamu…

betapa cintanya aku pada senyummu….

(Jakarta, 1/09/09)

Surat untuk Ibu

Ibu, sabarlah..karena aku belajar sabar dari diri mu…

basuh peluh hati mu…senyumlah…karena itu hapuskan luka…

Biasa-biasa saja

Wah bukan…sekali lagi bukan karena untuk menambah status ku di FB, agar Relationship status jadi lebih panjangan…ia hadir begitu saja…

juga bukan karena lupa daratan..sehingga anak kampung coba2 berani mengadu nasib dgn anak kota..hanya karena ia datang begitu saja….

tak perlu ku simbah darah kan…
tak perlu juga ku hanyutkan cita-cita…
aku laki-laki biasa dengan impian luar biasa…karena itu tiba2 kamu menjadi raga dan rangka…rupa mu utuh sempurna dalam imaji..seutuhnya…

tapi kau tak mau tahu..tak peduli…jadi ku berkeras dgn apa adanya diri..biasa-biasa saja…tak akan pernah lebay…

susah sekali mengenal anda puan…
karena kaupun hadir begitu saja….

Kamis, 06 Agustus 2009
FRA.

PUISI “SOE HOK GIE”

Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,,

pada suatu ketika yg tlah lama kita ketahui,,

apakah kau masih slembut dahulu,,

meminta ku minum susu dan tidur yang lelap,,

sambil membenarkan letak leher kemeja ku,,

kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih,,

lembah pandalawangi,,

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram,,

meresapi belaian angin yg menjadi dingin,,

apakah kau masih membelai ku semesra dahulu,,

ketika ku dekap…kau dekaplah lebih mesra,,lebih dekat,,

apakah kau masih akan berkata,,ku dengar degap jantung mu,,

KITA BEGITU BERBEDA DALAM SEMUA…KECUALI DALAM CINTA

(Puisi yg dibacakan nicholas ”gie” saputra pada OST Film Gie)

“Renungan Ku Sorang”

dalam renungan ku

aku ini sendiri

diombang-ambing tekad dan ambisi

padahal perahu ku didayung ke tengah atau menepi

atas kehendak bukan badan diri

dalam renungan ku sorang

terhenyak lalu berang

tak ku temukan tempat berpegang

kau adalah biduan yg pernah ku kira tempat bersandar

namun kau hilang

ditimbun oleh kasta mu

belum lagi keindahanmu

sudah! ku tutup lagi buku, perjalan menjari teman sejati….

dalam renungan ku sorang…..

(jakarta, 03/06/09)


“Puisi Buat Sang Demonstran”
(Rabu, 15 April 2009)
Sejauh mana kita telah bertakbir
Untuk meruntuhkan yg lalim
Berangkulan bahu, bersatu padu hari demi hari
Menjaga hasrat hati melindungi tubuh Ibu Pertiwi

Tidak dapat kita hitung jauhnya jalan perjuangan
Bersama-sama meniti dgn sepatu kumal dari tempat-tempat sepi hingga hotel-hotel berbintang…
Namun waktu harus berlalu memisahkan arah tuju
Tapi masih pada matahari yang sama, tujuan yang ingin kita gapai
Maka titik persimpangan kan selalu mempertemukan utk saling mengingatkan dan berbagi…
Ini hanya dinamika dari dimensi hidup…begitu kata orang bijak…
maka raihlah yang patut untuk kita raih….
Maka untukmu sang demostran, sahabatku..lagu lama masihku nyanyikan…
“ayo rapatkan barisan, satu komando, satu tujuan, genggam jarimu lalu kepalkan sbg simbol perlawanan”
Allahuakbar…

Nyamuk Kota
Berdenging-denging
mengganggu tidur
sudah tiga hari
tak jemu-jemu
iblis penghisap darah kecil tak tahu diri
sudah coba ku keluarkan jurus biasa
tapi apa daya
mereka beda
nyamuk ibu kota
lebih cepat bergeraknya, gesit, susah dibantai
Aku kesal, bangun, cari sendal, merangsek mencari kedai
tapi tak ada disekita rumah, sialan
ondeh mandeh
terpaksa tidur-tidur ayam, tidur iya lelap tiada
kuputuskan tidur di kantor lusa
setelah itu tunggu balasanku
untuk mu nyamuk kota
dendam kesumat seorang anak kampung
cuiiih awas kau
Revolusi
Siapa yang paling kuat mengukuhkan kakinya di muka bumi
SIAPA YANG PALING KUAT MENGUKUHKAN KAKINYA DI MUKA BUMI
dialah yang bertahan
DIALAH YANG BERTAHAN
Jangan mundur sedetikpun kawan
JANGAN MUNDUR SEDETIKPUN KAWAN
Rakyat tak sudi engkau khianati
RAKYAT TAK SUDI ENGKAU KHIANATI
Negara ini masih mencari jati diri
Tapi tidak kalian
Para pejuang sejati
Revolusi ini sampai mati
Selesaikan yang terabaikan
Siapa rela?
Ikut dalam dibarisan
Yang kuncun segeralah lari pulang
Karna ini pastilah berdarah-darah
Sebab itulah takdirnya
(Selasa, 24 Feb 2009, 08.20 am)
Khianat
Taukah kau
Qabil
dulu juga berkhianat krn nya
Jadi
aku tak heran bila…pun dirimu terperdaya fisik semata
lalu membunuh ku dengan diam…
Tapi taukah engkau juga
aku sudah memaafkanmu dalam senyap….
walau aku berkepundan dalam sedih
namun ku bisa tersenyum
ternyata kamu cuma segitu…
Berkata seolah-olah…
nyatanya cuma olah-olah kata…
suatu saat…
yakinku…
kesungguhan kan membuktikan…
pasti terbukti…
nikmatilah cintamu hari ini…
aku jujur saja tak mendoakan kau bahagia…
tapi juga sangat tak rela kau menderita…
Khianatmu diruangku
bersetubuh dengan tipuan
makasih…
membuatku paham…dan lebam dengan penderitaan…
(Senin, 23 Feb 2009, 11.45 pm)
Tak ngopi malam ini

malam aku ingin tidur
tak bisa
kau tetap hadir
padahal ku tak ngopi malam ini
hanya 3 gelas sepanjang siang tadi
masalahmu masalahku
kuterbawa jika kau gundah
resah mutualisme
novel puthut tak membantu lg
aku hilang akal
lupa dan tersesat
menjelajah rindu nan kutahan
mungkin ku harus lelap
tapi aku tak bisa tidur
padahal ku tak ngopi malam ini
hanya 3 gelas sepanjang siang tadi
(22 Feb 2009, Minggu, 12.19 am)
Eksistensimu…(aka. Kehadiranmu)

Eksistensimu
apakah kau benar-benar ada
atau hanya jalan fungsi otakku saja
satu kali kupikir kau hanya imajiner
kadang kau hadir…lebih sering kau pergi
kalau begitu
otakku tak berjalan seimbang
hatiku berkhianat…ia membuatmu eksis
Kalau begitu kau akan selalu disini
di hati
pengkhianatan yang terlalu
membuatku menunggu kehadiran materiilmu
padahal kau hanya imajinasi
princess….
(Kamis, 19 Feb 2009 9.42 pm)
Diredam

Aku menepi
di sudut ini
memberi ruang
tuk bahagiamu
Tetaplah jauh
membantu ku akhiri
Tetapi masih jua kau mengitari
memberi bayang yang mau kulupakan
kutiadakan…
Tega sekali, luka disobek kembali
hati remuk diredamkan
perih diasamkan
Apa maumu
kau meminta akhiri
perkara debu
kau gunungkan
canda kau darahkan
Tega sekali membiarkanku memandangimu hari-hari
membuka pintu untuk ditutupi
Tega sekali…membiarkanku mati diregang
api rasaku sendiri…
tega sekali
(Rabu, 18 Feb 2009, 11.59 pm)
Meneropong malam
malam
kosong
sepi
tempat ku berkabut dgn buku2 lama
mari perjuangkan yg hilang
gelapkan seperti malam
usah dikenang
bahkan ketika pulang
ke depan..
kau akan tau betapa dalam…
meneropong malam..
kelam tak berkesudahan…
kau, dia..adalah pagi dan siang
dan aku ditakdirkan menjadi malam..
meneropong malam…gelap dan sia-sia…
(Sabtu, 14 February 2009  11:23pm)

K.O.Y.A.C

apakah yang menyebabkan duniaku berwarna
apa nan membuatku tak peduli pendapat dunia
apakah yang memengaruhiku menikmati muram durja
apa nan membulatkan tekadku utk mengejar mimpi-mimpi

kamu…jawabku
tapi kau tak sudi apalagi peduli

ruang segala ruang…
sudilah kutempati apa yang awal dan apa nan akhir
kamulah yang awal dan tak akan pernah berakhir

di ruang ini

kembali jangan pergi
karena kepergian tak akan pernah kembali

rancu langkahku karena jujur jiwaku
ubah polahku karena begitulah rindu menipu
siapa sudi merajut hati nan pilu
kalau bukan engkau
jawabku…

kembali jangan pergi
karena menanti adalah suatu hal yang menyakitkan hati

apa yang menyebabkanmu begini
kalau bukan aku tempat segala khilaf berlabuh

(Sabtu, 14 Feb 2009, 12.12 am)

Memoar yang Hilang

Siapa yang meminta menyimpan sekian lama…
sudah kau tanam.
kemudian tumbuh
kembang
lalu hilang….

(Kamis, 12 Feb 2009, 02.31 PM)

10 Responses to “Puisi Revolusi”

  1. sabri Says:

    puisi revolusi semakin mengukuhkan dekat ini untuk berdiri d barisan terdepan demi sebuah revolusi…

    1. feriamsari Says:

      ambo sato lo ciek sab

  2. Laskar Reggae Surabaya Says:

    saluuuut….

  3. misa amane Says:

    keren banget… T.O.P..

    1. feriamsari Says:

      maksih misa hehe

  4. lien shu Says:

    selamat brjuang sahabat
    jangan biarkan keringat,air mata dan darah para pejuang negeri ini sia-sia tertumpah ketubuh ibu pertiwi

    1. feriamsari Says:

      makasih lien…tetap semangat juga yah

  5. put Says:

    apa yang mau anda revolusi?

    1. feriamsari Says:

      hati nurani🙂

  6. santoso123p Says:

    atexalhaqy :salam juang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s